“Kalau kemampuan intelektual saya tidak tinggi, apa saya bisa diterima menjadi karyawan di perusahaan ?” tanya sahabat saya.

“Bisa saja ! Asalkan kamu memenuhi semua persyaratan yang ditentukan perusahaan itu,” jawab saya. “Termasuk dalam hal kemampuan intelektual”.

” Nah, ini masalahnya. Saya ini tidak pandai matematika. Kemampuan intelektual saya tidak tinggi,” kata sahabat saya lagi.

“Begini…. Kemampuan intelektual itu bukan hanya ditentukan oleh menguasai matematika. Lagipula, perusahaan tidak selalu mensyaratkan kemampuan intelektual yang tinggi. Hal ini disesuaikan dengan posisi jabatan yang tersedia,” jawab saya.

* * * * *

Tidak dipungkiri bahwa masih banyak yang salah mengartikan bahwa orang yang pandai dalam matematika berarti kemampuan intelektualnya tinggi. Memang, kemampuan matematika (tepatnya : berhitung) merupakan salah satu penentu kemampuan intelektual, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Hal lain yang juga sering disalahartikan adalah bahwa perusahaan selalu mencari karyawan dengan kemampuan intelektual tinggi. Ini tidak selalu benar.

Untuk posisi komisaris, direksi, manajer, superintenden, atau supervisor, memang perusahaan mensyaratkan kemampuan intelektual yang tinggi. Untuk posisi staf pada bagian tertentu, juga disyaratkan kemampuan intelektual yang tinggi. Sedangkan untuk posisi staf pada bagian yang lain, kemampuan intelektual yang tinggi tidak menjadi syarat yang harus dipenuhi.

* * * * *

“Jadi, untuk orang yang tidak pandai matematika seperti saya, masih ada peluang untuk diterima menjadi karyawan perusahaan, ya ?” tanya sahabat saya.

“Tentu saja ! Asalkan kamu tidak melamar jadi Guru Matematika !” jawab saya.

* * * * *

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).