Bangsal Pagelaran di Kraton Yogyakarta

0
1315
Bangsal Pagelaran di Kraton Yogyakarta (Foto: Margareta Novita Sari Dewi)

Yogyakarta, RestuMagz – Lingkungan dalam Kraton Yogyakarta yang dimulai dari bagian depan hingga belakang, secara keseluruhan terbagi atas tujuh halaman (pelataran) yang mana masing-masing di batasi oleh tembok tinggi dan di dalamnya terdapat bangunan-bangunan, serta beberapa pintu gerbang yang menghubungkan antara halaman yang satu dengan halaman yang lain yang biasa di sebut REGOL.

Seiring dengan perkembangan yang terjadi di Kraton, maka sebagian besar bangunan tersebut masing-masing telah mengalami pemugaran. Bahkan beberapa diantaranya telah mengalami pergeseran fungsi. Pemugaran bangunan di Kraton secara keseluruhan di mulai tahun 1921 M, selesai tahun 1934 M. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Bangsal Pagelaran pada mulanya disebut Tratag Rambat yang atapnya berupa sirap kayu. Dan setelah di pugar pada jaman Sri Sultan Hamengku Buwono VII tahun 1921 Masehi, kemudian dinamakan Pagelaran.

Dimulainya pemugaran bangunan tersebut ditandai dengan candrasengkala (tahun jawa) yang terdapat pada bagian atas muka Bangsal Pagelaran, berbunyi “Panca Gana Slira Tunggal”, yang berarti tahun 1865 Jawa. Sedang selesainya pemugaran di tandai dengan suryasangkala tersebut, berbunyi “Catur Trisula Kembang Lata”, berarti tahun 1934 Masehi.

Bangunan ini digunakan untuk pelaksanaan Upacara Grebeg yang diselenggarakan 3 kali setiap tahun. Pada tanggal 13 Maret 1946, ketika Yogyakarta dibuka Perguruan Tinggi Gadjah Mada, atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagian bangunan di Kraton dipinjamkan untuk kegiatan kuliah di antara adalah Bangsal Pagelaran dan Sithinggil, sebagai tempat perkuliahan Fakultas HESP (Hukum, Ekonomi, Sosial, dan Politik) sampai tahun 1973. Kemudian kegiatan perkuliahan di pindahkan ke Bulak Sumur yang merupakan tanah Kasultanan yang dihibahkan kepada Yayasan Perguruan Tinggi Gadjah Mada , untuk kepentingan pendidikan hingga sekarang.

Penulis : Margareta Novita Sari Dewi (Jurnalis PT BPR Arta Yogyakarta)                               Editor   : Franes Pradusuara