Bukti Perilaku untuk Melamar Pekerjaan

305
Praktek Berjualan Menunjukkan Minat dan Bakat serta Ketrampilan untuk Menjadi Seorang Tenaga Penjual

KALAU saya ditanya, “Bidang pekerjaan apa yang masih banyak tersedia di BPR Restu Group?”, jawaban saya jelas dan tegas, ” Bidang penjualan alias jadi Account Officer”. Jawaban ini saya berikan berdasarkan fakta selama saya bekerja sejak tahun 2002 di perusahaan ini. Pelamar kerja di bidang penjualan produk kredit relatif lebih sedikit dibandingkan pelamar kerja di bidang administrasi, padahal kebutuhan karyawan baru di bidang administrasi jauh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan karyawan di bidang penjualan. Apabila saya memasang iklan lowongan kerja di bidang penjualan alias Account Officer, yang melamar rata-rata 5 orang untuk 1 posisi yang tersedia, sedangkan ketika saya memasang iklan lowongan kerja untuk bagian administrasi maka yang melamar rata-rata 20 orang untuk 1 posisi yang tersedia.

“Kenapa bisa begitu ?” tanya sahabat baik saya.

“Karena tidak banyak orang yang bercita-cita menjadi karyawan bagian penjualan. Orang lebih suka bekerja menjadi staf administrasi di kantor. Alasannya sangat klise, yaitu tidak dikejar target. Orang tua juga mendukung anaknya untuk bekerja jadi staf administrasi daripada jadi staf di bidang penjualan,” jawab saya.

“Kamu sendiri bagaimana ? Apa kamu dulu bekerja di bagian penjualan ?” tanya sahabat saya lagi.

“Tidak. Kalau kamu bertanya apakah saya DULU bekerja di bagian penjualan, maka jawaban saya adalah tidak. Kenapa ? Karena SAMPAI SEKARANG saya masih berjualan, masih bekerja DIKEJAR TARGET. Bedanya, saya SECARA AKTIF  MENGEJAR CALON PEMBELI DENGAN SIGAP sejak saya masih umur 19 tahun, sekarang ini sebagai seorang HR saya SECARA AKTIF MENGEJAR CALON KARYAWAN BAHKAN CALON KOMISARIS, CALON DIREKTUR, CALON MANAJER DENGAN SIGAP, supaya tidak didahului oleh perusahaan pesaing,” jawab saya.

“Bagaimana ceritanya kamu jadi tenaga penjualan sejak umur 19 tahun ?”

“Sambil kuliah di Jurusan Perikanan Universitas Diponegoro, saya sudah jadi tenaga penjualan buku dan asuransi. Memang tidak sukses, karena belum jodoh rezeki saya. Maka, saya banting stir. Saya buka usaha BIMBINGAN BELAJAR ” JANTERA STUDI ’89”. Saya pasang iklan kecik di Koran Suara Merdeka edisi hari Sabtu. Waktu itu, satu baris harganya Rp 1.500,-. Saya pasang 3 baris harganya Rp 4.500,-. Plus pajak 10%. Total Rp 4.950,-. Saya bikin kartu nama sendiri. Karena tidak punya banyak uang, saya hanya bisa mem-fotokopi kertas manila berwarna coklat kemudian saya potong-potong jadi kartu nama. Saya mendatangi para orang tua yang anaknya mau les di tempat saya untuk menjelaskan keunggulan Bimbingan Belajar yang saya berikan, setelah mereka menelepon saya karena tertarik dengan iklan yang saya pasang. Jangan lupa, saya tidak punya sepeda motor juga. Jadi, saya naik angkutan umum kalau ke rumah murid, karena saya memberikan bimbingan belajar privat. Kalau terpaksa karena rumah murid tidak dilewati jalur angkutan umum, saya pinjam sepeda motor pacar saya yang sekarang jadi istri saya. Ha….ha….ha…. Setelah menjalani usaha ini selama 4 tahun, saya berhasil beli sepeda motor baru Grand Astrea dari dealer Honda, meskipun masih kredit. Ha….ha….ha….,” saya bercerita panjang lebar.

“Tapi ‘kan kamu kemudian bekerja di Bank BNI, bekerja di Texmaco Group, dan bekerja di BPR Restu Group ini. Apa kaitannya dengan pengalaman kamu sebagai tenaga penjualan ?”

“Kaitannya sangat erat. Saya bekerja di Bank BNI karena saya melamar di bagian penjualan. Waktu itu kebutuhan karyawan di bagian penjualan banyak sekali, dan saya memang secara nyata sudah pengalaman berjualan selama 5 tahun. Begitu pula ketika saya bekerja di Texmaco Group, meskipun sudah tidak secara langsung menjadi tenaga penjualan, departemen saya masih departemen penjualan. Di BPR Restu Group ini, saya juga diterima karena ada lowongan Direktur Penjualan, dan saya memang seorang tenaga penjual. Ketika akhirnya saya diputuskan diterima menjadi HR, saya tetap MEMPERTAHANKAN gaya penjualan saya, dan dengan izin Tuhan Yang Mahaesa, hal ini cocok dengan tugas untuk MENCARI KARYAWAN YANG BERKUALITAS. Jadi, tidak jadi HR yang hanya berkutat di administrasi saja,” jawab saya.

TULISAN ini saya buat karena selain fakta yang saya sebutkan di atas bahwa tidak banyak orang yang mau menerjunkan diri senagai tenaga penjual, ada juga orang yang SELAMA SEKOLAH / KULIAH TIDAK PERNAH MENUNJUKKAN PERILAKU SEBAGAI TENAGA PENJUAL, ketika lulus sekolah / kuliah lalu melamar sebagai sebagai tenaga penjualan. Tentu saja, perusahaan tidak akan menerima, karena TIDAK ADA BUKTI NYATA BAHWA DIA SUKA DAN MAMPU BERJUALAN di masa lalu.

“O…. Jadi PENGALAMAN BERJUALAN itu harus sudah dirintis bertahun-tahun sebelumnya, ya ?” tanya sahabat saya.

“Benar. KETRAMPILAN MENJUAL itu harus dibina bertahun-tahun, minimal 5 tahun. Mohon maaf, ini bukan seperti ketrampilan mengetik dengan komputer yang sudah bisa dikuasai hanya 1 bulan saja,” jawab saya.

DUKUNGAN orang tua juga diperlukan supaya seseorang menyiapkan diri menjadi seorang tenaga penjual. Anak saya sudah membuat sendiri dan menjual bakso sapi “Raja Rasa” ketika dia masih kelas 6 SD di SD PL Bernardus. Dia juga berkeliling menyewakan buku-buku bacaan dengan uang sewa Rp 2.000,- per hari. Laris manis ! Karena kesibukan sekolah, bisnis itu berhenti. Tetapi, pengalaman ketrampilan berjualan itu akan abadi, apalagi supaya bisa berjualan, ada banyak hal teknis yang harus diatasi. Dan itu memang merlukan dukungan orang tua.

JADI, apa kesimpulannya ? PERTAMA, kalau ingin mendapatkan peluang yang besar ketika memasuki dunia kerja, jadilah tenaga penjualan. KEDUA, sejak masih sekolah / kuliah, harus sudah praktek berjualan. KETIGA, orang tua perlu memberi dukungan.

“Sebenarnya, selain peluang mendapatkan pekerjaan yang lebih besar ketika memasuki dinia kerja, apa lagi yang menarik dari pekerjaan sebagai seorang tenaga penjual ? ‘Kan dikejar-kejar target dan harus kena panas – kena hujan ketika menawarkan dagangan ?” tanya sahabat saya.

“Penghasilan tenaga penjual itu relatif lebih besar karena ada insentif selain gaji. Kedua, promosi jabatan lebih cepat dibandingkan staf non penjualan. Dan ingat, posisi Direktur Utama banyak diisi oleh para tenaga penjualan, karena perusahaan memerlukan orang yang bisa mendapatkan pembeli untuk mengembangkan bisnis dan organisasi perusahaan itu.

—–oOo—–

Penulis  : Constantinus J. Joseph (Praktisi HR BPR Restu Group, Angota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) & Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO))

Profile Status
ACTIVE