Cuaca Tidak Menentu, Isu Flu Burung Kembali Terangkat

119

Gerakan Waspada Flu Burung                                                                (Sumber: //www.penanggulangankrisis.depkes.go.id)

Beberapa hari yang lalu, masyarakat umum dikejutkan kembali dengan kemunculan Isu Flu Burung.  Berita ini muncul karena ada salah seorang warga Koja, Jakarta Utara, harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso (11/02). Dia diduga suspect flu burung (H5N1) karena mengalami demam tinggi berkelanjutan.  Tentu hal ini membuat para peternak ayam waspada dalam menyikapi isu flu burung tersebut.

Menurut Pusat Komunikasi Publik – Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan menyatakan, bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang sudah tergolong endemic untuk kasus flu burung.  Hal itu tentu saja terlihat dari beberapa tahun belakangan ini kasus flu burung di Jawa Tengah hampir terjadi setiap tahun.  Sebagai contoh pada tahun 2009 di Grobogan tepatnya di Kecamatan Purwodadi terjadi flu burung yang menyebabkan kematian unggas yang tidak sedikit.  Kemudian di Temanggung lebih dari 750 ekor ayam mati mendadak akibat flu burung.  Walau jumlah kematian unggas akibat flu burung di Jawa Tengah tidak sebanyak Jawa Barat dan DKI Jakarta, namun hal itu patut di waspadai.  Kewaspadaan itu muncul, karena flu burung bisa menular kepada manusia, dan bisa sampai berakibat pada kematian.

Berdasarkan hal tersebut maka tindakan pencegahan perlu dilakukan  supaya virus tidak semakin berkembang.  Upaya pencegahan pada unggas dapat dilakukan dengan cara pemusnahan unggas yang dicurigai terinfeksi flu burung, vaksinasi pada unggas yang masih sehat, membersihkan kandang secara rutin menggunakan disinfectan, dan mengkandangkan unggas yang dipelihara dengan cara diumbar.  Upaya pencegahan infeksi virus flu burung pada manusia bisa dilakukan dengan cara  mencuci tangan dan mandi dengan disinfektan/sabun sehabis bekerja (pedagang dan pegawai peternakan merupakan kelompok berisiko tinggi), menghindari kontak langsung dengan unggas, memakan makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh agar tetap prima, dan mengolah makanan yang berasal dari produk peternakan dengan benar (Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ± 640C selama 4,5 menit).

Meningkatkan upaya penyuluhan kesehatan masyarakat untuk tujuan edukasi agar masyarakat tetap waspada dan tidak panik masih dirasa perlu untuk terus dilakukan. Selain itu, kerjasama warga sangat diharapkan dalam menyampaikan informasi jika terjadi kasus kematian ayam mendadak di sekitar lingkungannya.

  • Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si                                                                                           Praktisi HR  dan Pemerhati Lingkungan                                                                     Alumni Magister Sains Universitas Diponegoro Angkatan 2008

 

Profile Status
ACTIVE