Dilarang Punya Kerja Sambilan ?

134
Keterangan : Kesuksesan kerja menuntut totalitas waktu, tenaga, dan pemikiran. Pekerjaan sambilan yang berpotensi menimbulkan "conflict of interest" maupun yang menyita waktu, tenaga, dan pemikiran jelas dilarang oleh perusahaan dan juga merugikan karyawan itu sendiri karena dia menjadi tidak fokus dalam bekerja di perusahaan.

*****

“Apa ada ketentuan di perusahaan bahwa karyawan dilarang punya pekerjaan sambilan ?” tanya sahabat saya.

“Tidak selalu. Itu tergantung,’ jawab says.

” Tergantung pada apa ?” tanya sahabat says lagi.

“Tergantung pada manajemen perusahaan itu,” kata saya. “Tetapi ada ketentuan umum yang berlaku di perusahaan mana saja yang tidak usah dituliskan, seperti kalau kamu naik bis berarti otomatis kamu harus bayar meski tidak ada aturan tertulisnya, bahwa pekerjaan sambilan tidak boleh yang bidangnya sama dengan bisnis perusahaan, dan bahwa pekerjaan sambilan itu tidak boleh menyita waktu, tenaga, dan pemikiran. Ini supaya karyawan yang punya pekerjaan sambilan bisa tetap fokus menjalankan pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan itu”.

” Wah, saya kok belum paham, ya ? tanya sahabat saya.

“Begini…. Kalau kamu bekerja sebagai karyawan perusahaan jual beli mobil bekas, kamu tidak boleh punya usaha sendiri di rumah berupa jual beli mobil bekas juga, karena akan terjadi” conflict of interest”, kata saya.

“Conflict of interest ? Apa itu ?” tanya sahabat saya.

“Artinya, terjadi perbenturan kepentingan alias persaingan antara usaha sambilan kamu berupa jual beli mobil di rumah dengan usaha perusahaan di mana kamu bekerja yang juga di bidang jual beli mobil bekas,” kata saya.

“Meskipun usaha sambilan saya di rumah itu dikelola atau dijalankan oleh adik saya, sedangkan saya tidak menjalankan usaha itu sehari-hari ?” tanya sahabat saya.

“Ya. Meskipun kamu sehari-hari tidak menjalankan usaha sambilan itu. Mengapa tetap dilarang ? Karena bidang usahanya sama dengan bidang usaha perusahaan di mana kamu masih bekerja sebagai karyawan !” kata saya.

*****

Akhir-akhir ini juga banyak karyawan perusahaan yang punya pekerjaan sambilan sebagai agen asuransi maupun agen jual beli properti. Karyawan yang bekerja di bank misalnya, dilarang punya pekerjaan sambilan sebagai agen asuransi maupun sebagai agen jual beli properties. Mengapa dilarang ? Bukankah bidang usahanya berbeda dengan bidang usaha bank di mana karyawan itu bekerja ?

Benar ! Meskipun bidang usahanya berbeda dengan bank, namun pekerjaan sambilan sebagai agen asuransi maupun sebagai agen jual beli properti pada kenyataannya harus siap menerima telepon maupun menerima pesan dari para calon konsumen, termasuk di saat jam kerja. Hal ini berarti mengganggu waktu kerja; tenaga dan pemikiran di saat jam kerja juga terganggu Karena harus menjawab pertanyaan yang diajukan calon konsumen lewat telepon maupun pesan di saat jam kerja. Tidaklah mungkin seorang calon konsumen yang di saat jam kerja menelepon atau mengirim pesan tentang rencana membeli produk yang ditawarkan, dijawab oleh karyawan, “Mohon maaf, sekarang saya sedang bekerja sebagai karyawan perusahaan; nanti akan saya jawab setelah jam kantor selesai”. Sekali lagiy, hal ini memang berarti bahwa waktu, tenaga, dan pemikiran karyawan tersebut memang “tersedot” untuk mengurus pekerjaan sambilan, sehingga dia tidak lagi bekerja secara maksimal sebagai karyawan perusahaan.

*****

“Lalu, pekerjaan sambilan seperti apa yang masih bisa diizinkan ?” tanya sahabat saya.

“Yang bisa dijalankan oleh istri di rumah secara mandiri. Misalnya, istri punya usaha warung makan di rumah, atau buka warung kelontong, atau usaha laundry di rumah,” kata saya.

“Lho…. Kalau seperti itu’kan sebenarnya memang istri yang punya usaha sendiri di rumah, ya ? Bukan usaha sambilan suami yang menjadi karyawan di perusahaan, ya ?” kata sahabat saya.

“Ya. Kamu bisa merasakan sendiri, mana yang boleh dan mana yang tidak,” kata saya. “Asalkan tidak  ada conflict of interest, asalkan tidak menyedot waktu, tenaga, dan pemikiran di saat jam kerja, itu boleh”.

“Bagaimana kalau menjadi dosen di luar jam kerja di perusahaan ? Apa boleh ?” tanya sahabat saya.

“Begini…. Kalau jadi dozen pada sore sampai malam hari, padahal pagi sampai sore hari harus bekerja sebagai karyawan di perusahaan, terus kapan istirahatnya ?” kata saya. “Lagipula, kapan akan memeriksa jawaban ujian mahasiswa ? Kapan akan menyusun atau menyiapkan materi kuliah ? Ini termasuk menyedot waktu, tenaga, dan pemikiran juga”.

*****

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan kali ini adalah : jangan sampai terjebak dalam dua pekerjaan yang nantinya tidak dapat dijalankan secara maksimal karena adanya” conflict of interest ” karena bidang usahanya sama, maupun karena menyedot waktu, tenaga, dan pemikiran.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, Praktisi Perbankan (Komisaris), anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE