“Gunakanlah Inteligensia dan Intuisi, Jangan Hanya Mengandalkan Komputer”

145
Keterangan : Karyawan tidak perlu takut tersaingi oleh komputer, asalkan dia bekerja dengan  inteligensia dan intuisi, sebab kedua hal inilah yang sampai sekarang belum bisa disamai oleh komputer dalam bidang pekerjaan.

*****

“Apakah komputer akan menggeser saya dari perusahaan ?” tanya sahabat saya.

Saya heran dengan  pertanyaan yang terdengar filosofis ini.

“Apa maksud kamu ?” tanya saya terpancing.

“Sekarang ini di tempat kerja sudah serba komputer. Saya pikir, suatu ketika komputer akan menggantikan saya,” katanya.

“Itu tergantung,” kata saya.

“Tergantung apa ?” tanya sahabat saya.

“Tergantung apakah kamu dalam bekerja menggunakan inteligensia dan intuisi, atau tidak ” kata saya.

“Kalau ya, bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Kalau ya, maka kamu masih tidak tergantikan oleh komputer,” kata saya. “Sebab sampai sekarang komputer baru bisa mengolah data yang sifatnya rutin, itupun sebatas data berupa angka. Komputer masih belum bisa sempurna meniru kecerdasan manusia secara sempurna, apalagi punya intuisi. Dan yang pasti, komputer masih belum bisa mengolah data kualitatif seperti ekspresi wajah, kalimat, sikap, perilaku, dan sejenisnya. Intinya, kamu lebih sempurna dari komputer”.

*****

Tulisan ini saya buat karena pengalaman yang dihadapi oleh banyak karyawan di mana saya menjadi Praktisi Psikologi Industri-nya. Di satu pihak, ada kekhawatiran (meskipun tidak selalu diungkapkan secara terus terang) bahwa mereka akan digantikan oleh komputer. Ironisnya, di lain pihak, mereka memang sangat mengandalkan komputer dalam mengerjakan tugas sehari-hari, boleh dibilang sampai inteligensia (kecerdasan) dan intuisi sebagai manusia tidak lagi mereka pakai. Para karyawan ini bahkan sudah bekerja seperti robot yang setiap hari menginput data, kemudian percaya begitu saja pada output yang diberikan oleh komputer.

“Kenapa kamu memperhatikan hal ini ?” tanya sahabat saya.

“Karena output-nya tidak masuk akal kalau dilihat menggunakan inteligensia maupun intuisi manusia,” jawab saya.

“Kok bisa output komputer salah ?” tanya sahabat saya.

“Bisa saja, karena data yang diinput salah, dan tidak lagi diperiksa ulang menggunakan inteligensia maupun intuisi,” jawab saya. “Pokoknya kerja sudah seperti robot input data, dan  apapun output komputer juga langsung ditelan mentah-mentah, tanpa dibaca lagi dengan inteligensia apalagi intuisi”.

*****

Bagaimanapun, harus kita sadari bahwa komputer adalah alat yang diciptakan oleh manusia, sedangkan kita (manusia) ini adalah ciptaan Tuhan Yang Mahaesa yang dilengkapi dengan inteligensia maupun intuisi. Kalau kita bekerja dengan menggunakan anugerah dari Tuhan Yang Mahaesa berupa inteligensia dan intuisi ini, maka (sekali lagi) komputer tidak bisa mengalahkan kita (manusia). Terlebih lagi, kalau data yang kita pakai adalah data kualitatif, maka komputer juga masih jauh bisa menyaingi manusia.

*****

Semoga tulisan ini mengingatkan kita semua bahwa kita adalah manusia yang mendapat anugerah Tuhan Yang Mahaesa berupa inteligensia dan intuisi, dan mari kita gunakan anugerah ini dalam bekerja. Selain itu, janganlah kita menggantungkan diri pada komputer dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, sebab kita ini lebih unggul dari komputer (meskipun tentu saja kita harus menguasai komputer sebagai alat bantu pekerjaan rutin kita dalam mengolah data kuantitatif).

Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, anggota HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), anggota APIO (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi).

Profile Status
ACTIVE