Guru di Tempat Kerja

366
Keterangan : Untuk dapat bekerja dengan baik, karyawan harus mencari dan mendapatkan guru di tempat kerja.

“Atasan saya bukan guru yang baik bagi anak buahnya,” kata sahabat saya.

“Apa yang kamu maksud dengan guru yang baik bagi anak buahnya ?” tanya saya.

“Artinya, dia itu memberikan penjelasaan kepada setiap anak buahnya dengan telaten,  tidak asal marah kalau anak buahnya melakukan kesalahan,” jawab sahabat saya.

“Terus, kamu mau apa ?” tanya saya.

Sahabat saya diam saja, tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa kamu mau keluar dari perusahaan itu gara-gara atasanmu bukan guru yang baik ?” tanya saya lagi.

“Ya tidak sih….. ‘Kan mendapatkan pekerjaan baru itu sekarang ini sulit,” kata sahabat saya.

“Ya sudah, kalau begitu kamu jalani saya,” kata saya.

“Tapi kalau saya mau bertanya atau mau belajar, kepada siapa ? Atasan saya itu kalau ditanya juga tidak menjawab. Mungkin tidak mau, mungkin juga tidak bisa menjawab,” kata sahabat saya.

* * * * *

Idealnya, seorang atasan harus bisa menjalankan tiga fungsi berikut ini sekaligus :

(1) Bisa menggerakkan termasuk memerintah anak buahnya.

(2) Bisa mendidik anak buahnya, kalau ada pengetahuan / ketrampilan / sikap yang kurang pada anak buahnya.

(3) Bisa menilai anak buahnya termasuk memberikan penghargaan maupun hukuman kepada anak buahnya.

Faktanya, hal yang ideal itu tidak selalu terjadi. Ada atasan yang tidak bisa mendidik anak buahnya, alias tidak bisa menjadi guru bagi anak buahnya.

Tentu saja, atasan seperti itu belum layak disebut sebagai atasan, dan masih harus selalu belajar tentang tiga fungsi atasan tersebut di atas (kalau tidak mau dicopot dari jabatannya pada saatnya nanti, karena tidak bisa menjalankan tiga fungsi atasan secara menyeluruh).

Di lain pihak, anak buah juga harus secara aktif mendapatkan guru yang baik di perusahaan, kalau atasannya memang bukan orang yang bisa mendidik anak buahnya.

Guru yang bukan atasan ini bisa berupa :

(1) Karyawan lain setingkat atasannya, yang bisa mendidik anak buah (meskipun bukan anak buahnya); sehingga proses belajar memang harus secara informal.

(2) Mengikuti seminar yang dilanjutkan dengan forum diskusi lewat internet dengan pembicara seminar tersebut (menambah relasi baru sekaligus mendapatkan guru secara informal).

(3) Sama seperti seminar, tetapi dalam hal training atau kursus. Yang jelas, jangan sampai “asal selesai acara training, langsung pulang”, karena guru harus dicari dan relasi harus dibentuk.

(4) Mengikuti kuliah kelas karyawan di sore – malam hari (tapi universitasnya harus yang terakreditasi). Para dosen pengajar tentu saja bisa menjadi guru yang baik (meskipun cenderung secara teori, tapi ini diperlukan juga).

(5) Membaca buku atau blog internet yang ditulis oleh orang yang ahli di bidangnya, atau mengikuti forum diskusi di media sosial yang dijalankan oleh orang-orang yang ahli di bidang yang dibahas.

* * * * *

“O…. Jadi tidak harus belajar dari atasan, ya ?” tanya sahabat saya.

“Terpaksa begitu, kalau atasan kamu memang bukan seorang guru yang baik,” jawab saya. “Tetapi kamu juga harus pandai menjaga diri dan merahasiakan bahwa kamu sebenarnya belajar dari orang atau pihak lain”.

“Lho, kenapa harus dirahasiakan ?” tanya teman saya.

“Atasan yang tidak bisa menjadi guru yang baik, biasanya justru tersinggung kalau anak buahnya belajar dari orang lain. Atasan seperti  ini sensitif sekaligus minder / rendah diri, dan bisa jadi malah membenci kamu kalau kamu berterus terang mengatakan sudah belajar dari orang lain,” kata saya.

“‘Kalau dia bertanya bagaimana caranya saya bisa tahu atau mengerjakan sesuatu, bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Dijawab saja bahwa kamu belajar sendiri dan sesekali ngobrol dengan teman kerja,” jawab saya. “Atau kamu bilang bahwa kamu belajar di rumah dengan membaca buku juga boleh. Yang jangan kamu lakukan adalah mengatakan bahwa kamu belajar langsung dari Si A atau Si B. Nanti atasan kamu jadi tidak suka, dan bisa menyusahkan kamu”.

* * * * *

Kesimpulan :

(1) Idealnya, atasan juga menjadi guru bagi anak buahnya.

(2) Atasan yang belum bisa menjadi guru bagi anak buahnya, harus mengembangkan diri supaya bisa menjadi guru bagi anak buahnya.

(3) Anak buah yang mempunyai atasan yang bukan merupakan guru bagi anak buahnya, harus aktif mendapatkan guru (atau beberapa guru) sesuai kebutuhannya untuk menjalankan pekerjaan dan mengembangkan diri.

(4) Anak buah harus pandai menjaga diri (dan menyimpan rahasia) supaya atasan yang bukan merupakan guru yang baik itu tidak merasa tersaingi oleh orang lain (yang menjadi guru bagi anak buahnya tersebut).

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri. Ilmuwan Psikologi, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE