Jerigen, Air yang Mengisi Jerigen, dan Bak yang Harus Diisi Air

732
Keterangan : Potensi diri berupa kemampuan intelektual dan kepribadian diibaratkan sebagai jerigen; ada jerigen 5 liter, 10 liter, 20 liter, dan sebagainya.

Kompetensi berupa pengetahuan, ketrampilan, dan sikap kerja diibaratkan sebagai air yang menjadi isi jerigen : ada jerigen yang isinya 100% penuh, ada yang 75% penuh, ada yang 50% penuh, ada yang hanya 25% penuh, ada juga yang kosong.

Pekerjaan yang harus dilakukan seseorang diibaratkan sebagai bak mandi yang harus diisi dengan air menggunakan alat berupa jerigen.

Bak mandi 20 liter paling tepat diisi air 20 liter memggunakan jerigen 20 liter yang terisi 100% penuh, sehingga dengan satu kali kerja maka bak mandi itu terisi. Tetapi, kalau tidak ada 20 liter yang isinya 100% penuh, dan hanya ada jerigen 20 liter yang untuk mengisi bak itu isinya hanya 25% penuh (hanya 5 liter isinya), maka diperlukan 4 jerigen 20 liter. Akan lebih baik mengisi bak mandi itu dengan jerigen 10 liter yang isinya 100% penuh (isinya 10 liter), karena hanya diperlukan 2 jerigen 10 liter.

*****

“Saya kok sampai sekarang masih sulit membayangkan, potensi diri itu apa, kompetensi kerja itu apa, dan apa kaitannya dengan pekerjaan yang harus saya lakukan,” kata sahabat saya.

“Itu wajar,” kata saya. “Karena potensi diri dan kompetensi kerja itu merupakan konsep, bukan benda nyata yang bisa dilihat atau dipegang”.

” Apa kamu bisa memberikan perumpamaan, supaya saya bisa membayangkan dengan lebih jelas ?” tanya sahabat saya.

*****

Sebagaimana gambar di atas dan keterangannya, saya biasanya memberikan perumpamaan tentang potensi diri, kompetensi diri, dan pekerjaan sebagai jerigen, air yang menjadi isi jerigen, dan bak mandi yang harus diisi air.

Jerigen itu memang ada yang 5 liter, 10 liter, 20 liter, dan seterusnya. Ini merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dikembangkan (diisi) semaksimal mungkin.

Faktanya, ada orang yang melatih dirinya supaya menjadi kompeten sesuai pptensi dirinya semaksimal mungkin, tetapi ada juga yang tidak.

Oleh karena itu, ada orang yang kemampuan intelektualnya tinggi tetapi karena malas belajar maka kompetensinya rendah dan tidak mendapatkan pekerjaan yang baik. Ini diibaratkan jerigen 20 liter tetapi isinya hanya 25% penuh.

Sebaliknya, ada orang yang kemampuan intelektualnya biasa saja, tetapi dia rajin belajar, sehingga kompetensinya tinggi sesuai potensi maksimalnya. Dia mendapatkan pekerjaan yang baik. Ini diibaratkan jerigan 10 liter yang 100% terisi penuh.

*****

“Apakah orang yang potensi dirinya diibaratkan jerigen 5 liter, bisa menjadi jerigen 10 liter atau bahkan 20 liter ?” tanya sahabat saya.

“Tentu bisa ! Itu adalah anugerah Tuhan !” kata saya. “Dan sebaliknya, orang yang potensi dirinya diibaratkan jerigen 20 liter, tetapi karena malas belajar maka kompetensi / isinya hanya 25% penuh. Bisa saja, jerigennya bisa menjadi 5 liter saja”.

Sahabat saya mendengarkan saya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tuhan yang mengatur segalanya, dan manusia harus berdoa dan berusaha supaya anugerah itu dikembangkan semaksimal mungkin sebagai amanah dari Tuhan,” jawab saya.

*****

Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah : ketika jerigen masih 10 liter, jangan dipaksa diisi air 20 liter. Perumpamaan ini faktanya adalah sebagai berikut : ada orang yang terlalu berambisi ingin menjadi orang yang mempunyai jabatan tinggi, padahal potensi dirinya tidak sampai untuk jabatan itu. Dia mempelajari banyak hal, tetapi tidak bisa menerapkan dalam posisinya sebagai direktur (jerigen 10 liter diisi air 20 liter, maka yang 10 liter tumpah). Kepemimpinamnya senagai direktur menjadi tidak efektif, anak buahnya serba bingung karena instruksi yang diterima tidak jelas, dan priloduktivitasnya rendah.

Perumpamaan ini menjadi renungan bahwa setiap orang harus selalu berdoa dan berusaha semaksimal mungkin, pertama-tama untuk mengembangkan kompetensi semaksimal mungkin SESUAI POTENSI DIRI masing-masing, dan setelah itu menjalankan pekerjaan sebaik mungkin.

Jangan sampai kompetensi dikembangkan TIDAK MAKSIMAL sesuai UKURAN POTENSI DIRI, dan jangan sampai juga TERLALU BERAMBISI dalam mengembangkan kompetensi MELEBIHI POTENSI DIRI (karena ada hal yang sudah dipelajari yang TERBUANG SIA-SIA karena memang bukan jalan hidupnya).

Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri sejak tahun 2002, Ilmuwan Psikologi dan Kandidat Psikolog, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO)

Profile Status
ACTIVE