Kamu Bisa Bela Diri?

201

Bela Diri Bisa Merupakan Nilai Lebih Saat Melamar Kerja

Di toko-toko buku banyak dijual buku panduan tes wawancara dalam rangka seleksi penerimaan karyawan baru. Ada banyak judul buku yang tersedia, yang ditulis oleh banyak penulis, dengan penerbit yang berbeda-beda.

“Apa buku seperti itu ada gunanya ?” tanya seorang kenalan kepada saya.

“Tentu saja ada,” jawab saya. “Tetapi harus kamu pahami bahwa pewawancara dalam seleksi penerimaan karyawan baru bisa saja mengajukan pertanyaan yang tidak terduga dan sepertinya tidak ada kaitannya dengan posisi jabatan yang kamu lamar”.

“Misalnya bagaimana ?”

“Misalnya, ketika saya sedang menjalani tes wawancara dalam rangka seleksi penerimaan direktur di sebuah perusahaan, pewawancara mengajukan pertanyaan apakah saya bisa bela dii atau tidak. Karena saya sewaktu kuliah berlatih karate, saya jawab dengan tegas bahwa saya seorang karateka”. Saya tahu, bahwa salah satu pewawancara yang mengajukan pertanyaan itu justru adalah pemilik perusahaan di mana saya melamar kerja.

Saya diterima di perusahaan itu, dan akhirnya saya paham bahwa pertanyaan itu diajukan karena yang dicari adalah orang yang tegas dan berani mengambil risiko. Dan pemilik perusahaan memang melihat bahwa orang yang bisa bela diri memenuhi kualifikasi itu. Apa boleh buat, itu adalah hak dari pemilik perusahaan untuk menentukan kualifikasi yang harus dipenuhi pelamar yang akan diterima sebagai karyawan di perusahaan miliknya.

* – * – * – * – *

Banyak teman-teman saya yang aktif berlatih bela diri ketika masih SD atau SMP / sederajat atau SMA / sederajat atau kuliah seolah-olah melupakan bela diri yang dipelajarinya pada saat sudah bekerja. Padahal, dari pengalaman pribadi saya, pengalaman atau kemampuan bela diri ternyata memberikan nilai tambah pada saat menjalani seleksi penerimaan karyawan baru. Tentu saja, hal ini tergantung dari selera dan kebutuhan pemilik perusahaan.

* – * – * – * – *

“Jadi, hikmah apa yang bisa diambil dari pengalaman kamu itu ?” tanya seorang teman baik saya.

“Bahwa selagi masih muda, asahlah ketrampilan di banyak bidang. Olah raga, kesenian, fotografi, apa saja yang positif. Bisa jadi, itu akan memberikan nilai tambah pada saat nanti melamar atau menjalani seleksi penerimaan karyawan baru,” jawab saya.

Tentu saja, dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, saya tidak menggunakan teknik bela diri yang saya pelajari, karena pekerjaan saya memang tidak ada hubungannya langsung dengan bela diri. Tetapi, di tempat kerja sekarang saya masih melatih bela diri karyawan kantor, dan pemilik perusahaan senang dengan hal itu. Boleh dikata, hobi bela diri pada saat masih kuliah dulu ternyata memberi nilai tambah bagi saya. Padahal, saya tidak pernah berpikir bahwa latihan bela diri ternyata berguna juga ketika saya melamar kerja di level direktur !

—– oOo —–

Ditulis oleh : Constantinus J. Joseph
(Praktisi HR BPR Restu Group, Angota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) & Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO))

Profile Status
ACTIVE