*****

“Anak saya, perempuan, di kampusnya ikut kegiatan Resimen Mahasiswa dan Taekwondo. Apa itu bisa menjadi nilai lebih saat seleksi penerimaan karyawan baru ?” tanya sahabat saya yang bekerja sebagai seorang manajer di Yogyakarta.

“Tentu saja,” jawab saya. “Perusahaan melihat bahwa pelamar yang mengikuti kegiatan seperti itu di kampus, tentu mempunyai kepribadian yang kuat dan disiplin yang tinggi. Kalau tidak, pasti dia tidak akan memilih kegiatan-kegiatan seperti itu”.

*****

Kebanyakan orang memang menduga bahwa seleksi penerimaan karyawan baru hanya untuk mengisi lowongan kerja yang ada di perusahaan saat itu. Tentu saja, dugaan itu benar adanya. Tetapi yang juga harus diketahui adalah : perusahaan juga akan mencari beberapa orang yang dapat dikembangkan untuk menjadi pemimpin di masa depan. Orang tua ini harus mempunyai kepribadian yang kuat (matang / dewasa / percaya diri) dan disiplin.

Misalnya, perusahaan melakukan seleksi penerimaan karyawan baru untuk mengisi lowongan 3 (tiga) orang Customer Service. Pelamar yang diterima adalah yang memenuhi syarat yang sudah ditentukan (lulus tes seleksi). Misalnya :

– Pelamar A = skor hasil seleksi 75; passing grade 70. Artinya : lulus.

– Pelamar B = skor hasil seleksi 85; passing grade 70. Artinya : lulus.

– Pelamar C = skor hasil seleksi 65; passing Grade 70. Artinya : tidak lulus.

– Pelamar D = skor hasil seleksi 90; passing grade 70. Artinya : lulus.

– Pelamar E = skor hasil seleksi 70; passing grade 70. Artinya : lulus. Catatan : ada bukti bahwa selama kuliah aktif di kegiatan yang penuh dengan tempaan fisik dan mental, yang menuntut kedisiplinan dan ketegasan.

Maka, meskipun kalau di-ranking menurut skor adalah :

– Ranking I : D (90) lulus

– Ranking II : B (85) lulus

– Ranking III : A (75) lulus

– Ranking IV : E (70) lulus

– Ranking V : C (65) tidak lulus

Perusahaan akan memutuskan bahwa yang diterima adalah :

– D karena lulus dan skor tertinggi

– B karena lulus dan skor kedua tertinggi

– E karena lulus; meskipun skor kalah dengan A, tetapi mempunyai nilai lebih dalam hal kepribadian yang kuat untuk dikembangkan sebagai calon pemimpin di masa depan.

*****

“Lho, kalau begitu, bisa jadi yang akan mendapat promosi jabatan sebagai supervisor setelah sama-sama bekerja satu atau dua tahun, justru Si E ?” tanya sahabat saya.

“Ya,” jawab saya.

“Meski skor ketika masuk jadi karyawan baru lebih tinggi Si D dan Si B ?” tanya sahabat saya lagi.

“Ya,” jawab saya.

“Meskipun produktivitasnya lebih tinggi Si D dan Si B ?” tanya sahabat saya.

“Ya,” jawab saya. “Asalkan produktivitas Si E juga masih memenuhi passing grade untuk mendapatkan promosi jabatan”.

” Kok bisa begitu, ya ?” tanya sahabat saya heran.

“Memang begitu. Sebab, kalau untuk dijadikan sebagai Karyawan Teladan atau Karyawan Terbaik karena produktivitasnya paling baik, memang Si D atau Si B potensial yang mendapatkan, karena mereka memang potensinya sejak awal seleksi lebih bagus dari Si E untuk menjalankan pekerjaan sesuai tuntutan perusahaan,” kata saya. “Tetapi untuk mendapatkan promosi menjadi supervisor atau pemimpin di masa depan, diperlukan bakat kepemimpinan dan ketegasan yang harus sudah dipupuk dan terlihat nyata sejak masih kuliah, bahkan sejak masih SMA, SMP, atau SD. Dan ini hanya ada pada Si E. Maka, Si E yang mendapatkan promosi jabatan, meski sebagai staf Customer Service, dia bukan yang terbaik, asalkan masih memenuhi passing grade penilaian kinerja”.

*****

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan kali ini adalah :

– Yang pada saat “seleksi penerimaan karyawan baru” mendapat skor tertinggi, ┬ámaupun yang pada saat sudah bekerja sebagai staf mendapat nilai “penilaian kinerja” tertinggi, belum tentu yang memdapat promosi jabatan.

– Yang mendapat promosi jabatan adalah yang “menunjukkan bakat kepemimpinan yang menonjol” sejak masih kuliah (atau bahkan sejak masih SMA, SMP, atau bahkan SD), meskipun skor “seleksi penerimaan karyawan baru” bukan yang tertinggi, dan nilai “penilaian kinerja” bukan yang tertinggi (asalkan masih memenuhi “passing Grade”).

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, Komisaris Perbankan, Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).