Memahami Tipe Atasan di Tempat Kerja

115
Keterangan : Buku karya Eiji Yoshikawa dengan judul Taiko merupakan salah satu buku bacaan yang enak dibaca dan isinya juga ada gunanya untuk menambah wawasan kita di tempat kerja, misalnya tentang bagaimana kita harus bertindak sesuai tipe kepribadian atasan kita.

Buku adalah jendela dunia. Setidaknya, itulah pepatah yang pernah kita dengar ketika kita masih bersekolah di Sekolah Dasar. Masalahnya, apakah pepatah itu memang sudah kita buktikan ? Tentu saja, kalau kita tidak membaca banyak buku ( = hanya membaca buku karena disuruh guru di sekolah atau disuruh dosen ketika kuliah, bukan atas keinginan sendiri), maka kita tidak akan pernah bisa membuktikan kebenaran pepatah yang mengatakan bahwa “buku adalah jendela dunia” itu. Jadi, untuk bisa membuktikan benar tidaknya pepatah itu, yang harus kita lakukan adalah kita harus membaca banyak buku dengan sukarela alias atas inisiatif sendiri ( = bukan membaca buku bacaan wajib sekolah atau kuliah).

“Tetapi, apakah itu ada gunanya untuk kita yang sudah bekerja ?” tanya sahabat saya.

“Tentu saja,” jawab saya. “Saya sudah membuktikannya”.

“Apa kegunaannya ?” tanya sahabat saya lagi.

* * * * *

Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya itu, saya kemudian bercerita tentang salah satu buku kesayangan saya. Judul bukunya “Taiko”, ditulis oleh penulis terkenal dari Jepang, namanya Eiji Yoshikawa.

Bagi yang belum terbiasa membaca buku novel, membaca “Taiko” merupakan tantangan yang mengasyikkan, karena tebalnya buku ini. Demikian pula bagi yang sudah terbiasa membaca buku novel yang tebal, “Taiko” merupakan buku bacaan yang sangat mengasyikkan.

Buku ini bercerita tentang Toyotomi Hideyoshi, seorang pemuda yang mengawali pekerjaannya sebagai seorang pembawa sandal di Jepang ketika zaman para Samurai dulu. Toyotomi Hideyoshi yang cerdas, ternyanya di awal pekerjaannya justru tidak mendapatkan pekerjaan yang baik, justru karena kepandaiannya. Kenapa ? Karena para majikannya ( = para bangsawan) tidak sudak tersaingi dengan kecerdasan si pembawa sandal yang bekerja padanya.

Sampai pada akhirnya, Toyotomi Hideyoshi menyadari kesalahannya ini, dan memperbaikinya. Dia tetap saja cerdas, tetapi dia tidak secara terbuka atau secara sembrono menunjukkan kecerdasannya (yang bisa membuat majikannya merasa kalah cerdas). Dia baru memberikan jawaban yang cerdas pada saat majikannya mengajukan pertanyaan kepadanya, dan dia pun pandai menutup mulutnya untuk tidak mengatakan kepada orang lain bahwa ide yang disampaikan oleh majikannya sesungguhnya merupakan hasil pemikirannya ( = dengan demikian majikannya tidak mendapat malu, justru terkenal karena melontarkan ide cerdas yang sebenarnya adalah ide Toyotomi Hideyoshi).

Dengan pembawaan diri seperti ini, ternyata majikan Toyotomi Hodeyoshi menjadi lebih sayang kepada Toyotomi Hideyoshi, sehingga kemudian Toyotomi Hideyoshi dipromosikan untuk bekerja di rumah bangsawan yang lebih tinggi tingkatannya. Demikian kejadian ini berulang-ulang, sehingga karir pekerjaan Toyotomi Hideyoshi semakin meningkat dan akhirnya menjadi salah satu penguasa di Jepang saat itu ( = karena sesungguhnya dia memang cerdas).

* * * * *

“Jadi maksud kamu, meskipun saya ini cerdas, di tempat kerja saya tidak boleh menunjukkan kepada semua orang bahwa saya ini cerdas ?” tanya sahabat saya.

“Ya. Begitulah pesan yang bisa diambil dari pengalaman Toyotomi Hideyoshi,” jawab saya. “Karena kalau atasan kamu ternyata kalah cerdas dibandingkan kamu, maka dia akan merasa tidak nyaman atau bahkan merasa terancam atau tersaingi oleh kecerdasanmu. Kalau sudah begitu, dia bisa saja mendepak kamu keluar dari perusahaan itu, karena dia lebih berkuasa. Kalau sudah begitu, maka kecerdasanmu tidak membawa manfaat buat karir pekerjaanmu, tetapi justru membawa malapetaka buat kamu”.

* * * * *

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari tulisan edisi kali ini adalah :

1. Kita harus cerdas di tempat kerja.
2. Kita harus mengenali kecerdasan atasan kita di tempat kerja.
3. Kita harus pandai membawa diri supaya atasan kita tidak merasa dipermalukan atau tersaingi oleh kita karena kita lebih cerdas darinya; sebaliknya, justru kita harus belajar dari Toyotomi Hodeyoshi yang membuat atasannya menjadi terlihat lebih cerdas karena ide-ide brilian yang dikemukakan Toyotomi Hideyoshi (dan tidak mengatakan kepada orang lain bahwa itu sebenarnya adalah ide Toyotomi Hideyoshi).

4. Pada saat kita sudah memiliki atasan yang memang lebih cerdas dari kita, barulah kita boleh menunjukkan kecerdasan kita secara terbuka (karena atasan yang lebih cerdas itu tidak akan merasa tersaingi).

—– oOo —–
Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).
Profile Status
ACTIVE