Memilih Bank yang Aman itu Mudah – Bag.2

63

Selain analogi pada artikel sebelumnya (Memilih Bank yang Aman itu Mudah – Bag.1), secara empiris juga ada beberapa indikator yang layak dijadikan referensi untuk mendeteksi kinerja bank.

 Pertama, Tingkat suku bunga

makin tinggi bunga yang ditawarkan, terutama jika dibandingkan dengan bank yang beraset setara, makin tinggi pula resiko bank tersebut. Logikanya sangat sederhana, kita semua tahu bahwa bank merupakan lembaga intermediary dimana dalam mengelola dananya harus berpegang pada prinsip kesesuaian jatuh tempo (maturity). Bank yang berhati-hati biasanya menyalurkan dana masyarakat berjangka pendek menjadi kredit jangka pendek pula. Sedangkan kredit jangka panjang didanai dari dana jangka panjang. Dalam prakteknya, ada bank-bank yang menggunakan dana jangka pendek untuk membiayai proyek properti yang jelas-jelas jangka panjang. Hal ini jelas-jelas melanggar prinsip kehati-hatian.

 Persoalan menjadi semakin kacau balau kalau pengembalian kredit jangka panjang tersendat dipastikan bank akan menghadapi persoalan likuiditas. Disatu sisi bank harus membayar dana masyarakat yang jatuh tempo, akan tetapi disisi lain sumber untuk membayar dana itu tidak ada, sebab dananya sudah tertanam di kredit jangka panjang.

 Untuk menyiasati persoalan seperti itu, bank biasanya akan mencari pinjaman dari bank lain, namun ongkosnya sangat mahal dan belum tentu dana yang dibutuhkan tersedia. Alhasil bank terpaksa mencari dana-dana baru dari masyarakat.

 Agar menarik, bank kemudian memberikan bunga sangat tinggi. Seringkali jauh lebih tinggi ketimbang suku bunga LPS. Namun hal itu sama saja dengan gali lubang tutup lubang. Oleh karena itu sebaiknya hindari penempatan dana pada bank-bank yang memasang bunga terlalu tinggi.

 

Kedua, struktur kepemilikan dan manajemen.

Banyak bank yang bermasalah adalah bank-bank yang manajemen dan pemiliknya memiliki pertalian yang terlalu erat. katakanlah, bank dimiliki si A kemudian yang menjadi direktur atau jajaran manajemennya adalah kerabat si A. Jika seperti itu, sangat besar kemungkinannya terjadi persekongkolan diantara mereka atau dengan kata lain manajemen hanya sebagai boneka.

 disisi lain, ada pula bank-bank yang dimiliki satu orang atau mayoritas tunggal. Pemiliki yang terlalu berkuasa biasanya cinderung melakukan intervensi. Apalagi kalau pemilik memiliki bidang usaha lain yang membutuhkan dana. Bukan tidak mungkin banknya hanya dijadikan sebagai sapi perahan. Umumnya bank yang hanya dimiliki satu orang akan sulit beroperasi secara profesional, sebab tidak ada pengawasan yang seimbang dari pihak lain. Jadi jangan terlalu menaruh harapan terhadap bank yang kepemilikannya hanya dikuasai satu orang.

 Pertanyaannya, Bagaimana mengetahui sebuah bank dikuasai mayoritas tunggal atau tidak ?

 Jawabannya mudah saja. Cari laporan keungan publikasi bank yang ada di website OJK. Cermati bagian bawah laporan keuangan tersebut. Biasanya, ada kolom mengenai pemilik bank lengkap dengan presentase kepemilikannya. Dari kolom tersebut, Anda akan menemukan apakah bank bersangkutan dimiliki segelintir pemegang saham atau tidak. Lebih dari itu, jika pemilik bank itu berupa perusahaan, Anda juga akan mengetahui apakah perusahaan yang memiliki bank itu merupakan grup usaha atau bukan. Kesimpulannya sederhana, jika mayoritas saham dimiliki group usaha, pengalaman memperlihatkan, sebagian kredit bank tersebut pasti disalurkan untuk group usahanya. Sebaliknya Anda berhati-hati dengan bank seperti itu.

 Ketiga, Pertumbuhan Asset

Waspadai bank yang jumlah asetnya secara tiba-tiba menjadi begitu besar. Meskipun pertumbuhan merupakan hal yang baik, lazimnya, hal itu harus bertahap. Sangat beresiko kalau aset bank tiba-tiba membesar tanpa alasan jelas. Boleh jadi, bank tersebut terlalu ekspansif menyalurkan pinjaman tanpa menerapkan prinsip kehati-hatian. Bukan tidak mungkin bank tersebut terlalu banyak menyalurkan kredit kepada group sendiri. Atau, malah bank itu mengkapitalisasi tunggakan bunga debitur menjadi pokok pinjaman baru.

 Selain indikator-indikator sederhana diatas, masih ada pendekatan lain dalam mendeteksi sehat tidaknya sebuah bank. Pendekatan tersebut lazim disebut sebagai CAMEL (Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity). Namun, untuk menggunakan pendekatan ini tidak mudah, selain bersifat teknis belum tentu hasilnya benar karena bisa dimanipulasi/diakali agar nilai camelnya menjadi sehat.

Yang perlu diingat, memilih BPR sebaiknya tidak didasarkan pada tampak lahiriahnya saja seperti promo hadiah, promosi yang gencar atau suku bunga yang tinggi, meskipun menggiurkan belum tentu memberikan “madu”.

Mesti dipahami, rayuan berbunga-bunga sering kali memilki tujuan dibalik itu semua, Malah ia bisa mengandung racun. Meskipun tampilannya cantik belum tentu tubuhnya sehat. Jadi, lebih baik memilih bank yang meskipun tampilannya tidak gebyar tapi sehat, ketimbang bank yang kelihatannya besar tapi keropos.

Penulis : Eko Prasetiyo, S.E., M.M., Akt. (Komisaris BPR Restu Group)

Profile Status
ACTIVE