Mengapa Karyawan Dirotasi ?

136
Keterangan : Rotasi karyawan dilakukan manajemen dengan tujuan. Prinsipnya, ada 2 macam tujuan : (1) Rotasi yang mengarah ke promosi jabatan, (2) Rotasi yang mengarah ke demosi ("down grade) jabatan.

* * * * *

“Payah ! Anak saya dalam dua tahun ini sudah di-rotasi ke tiga jabatan yang berbeda,” sahabat saya mengeluh. “Padahal karyawan lain tidak”.

“Selama ini penilaian kinerja anakmu baik atau tidak ?” tanya saya.

“Justru itu ! Anak saya yang penilaian kinerjanya baik, di-rotasi terus, harus membereskan masalah terus, harus belajar terus. Sedangkan temannya yang penilaian kinerjanya biasa saja, malah adem ayem tidak pernah di-rotasi,” jawab sahabat saya.

“Memangnya manajemen perusahaan di mana anakmu bekerja tidak menjelaskan alasan anakmu di-rotasi ?” tanya saya.

“Katanya sih, untuk menambah pengetahuannya,”  jawab sahabat saya. “Bagaimana menurut kamu ?”

* * * * *

Memang, tidak semua manajemen perusahaan menjelaskan dengan jelas tentang alasan seorang karyawan di-rotasi. Akan tetapi, alasan ini bisa dianalisis dari penilaian kinerja karyawan yang di-rotasi tersebut.

PERTAMA, kalau penilaian kinerja karyawan yang di-rotasi tersebut adalah “baik”, “sangat baik”, bahkan “istimewa”, maka bisa disimpulkan bahwa rotasi tersebut adalah dalam rangka mempersiapkan karyawan tersebut untuk mendapatkan promosi jabatan. Apalagi, kalau di tempat yang baru, karyawan tersebut mendapatkan penilaian kinerja yang “baik”, “sangat baik”, atau “istimewa”, ternyata di-rotasi lagi, semakin jelas bahwa rotasi ini adalah dalam rangka persiapan promosi jabatan. Karyawan seperti ini bisa saja di-rotasi sampai tiga kali pada jabatan setara yang berbeda dalam waktu dua tahun atau tiga tahun. Artinya, (hampir) setahun sekali mendapatkan rotasi jabatan.

KEDUA, apabila karyawan yang di-rotasi memiliki penilaian kinerja “pas-pasan” atau “jelek”, apalagi kalau sebelum itu dia juga mendapatkan surat peringatan, maka rotasi itu adalah menjurus ke demosi (“down grade”) jabatan. Apakah karyawan itu jadi di-“down grade” (di-demosi) atau tidak, tergantung dari penilaian kinerja selama dia menjalankan jabatan baru tersebut. Kalai penilaian kinerjanya jelek, maka dia akan betul-betul di-“down grade” (di-demosi). Sebaliknya, kalau penilaian kinerjanya baik, dia tidak jadi di-“down grade” (di-demosi).

* * * * *

“Kalau memang anak saya di-rotasi dalam rangka mempersiapkan diri mendapatkan promosi jabatan, mengapa manajemen  tidak mengatakan dengan terus terang ?” tanya sahabat saya. “Mengapa mereka hanya mengatakan untuk MENAMBAH PENGETAHUAN saja ?”

“Karena memang ada manajemen perusahaan yang punya prinsip begitu,” jawab saya. “Mereka menyembunyikan alasan yang sebenarnya, untuk menjaga hal ini : kalau ternyata anakmu gagal mendapat penilaian kinerja baik di jabatan yang baru, mereka tidak harus mencabut alasan yang sudah diberitahukan kepada anakmu, bahwa anakmu akan mendapat promosi jabatan”.

“Apa ada alasan yang lain ?” tanya sahabat saya.

“Ya. Untuk menguji sikap mental anakmu, apakah kalau di-rotasi berkali-kali tanpa mendapat janji-janji promosi, anakmu akan tetap menjalankan tugas barunya dengan baik atau tidak,” jawab saya.

—–oOo—–

Penulis adalah praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE