“Naik Gaji di Awal Tahun ? Tidak Harus !”

205
Keterangan Foto : Gaji memang penting, tetapi bukan satu-satunya. Ketika gaji ternyata tidak naik atau naik hanya sedikit saja, tetaplah bersyukur kepada Tuhan Yang Mahaesa, dan melakukan introspeksi diri tentang "kesalahan apa yang sudah aku lakukan" dan "apa yang akan aku lakukan untuk memperbaikinya"

* * * * *

“Apakah gaji karyawan harus naik setiap awal tahun ?” tanya sahabat saya.

“Tergantung,” jawab saya.

“Tergantung apa ?” tanya sahabat saya lagi.

“Banyak hal,” kata saya.

* * * * *

Perusahaan memang tidak harus menaikkan gaji karyawan setiap awal tahun, kecuali kalau —– akibat kenaikan UMK yang baru —– gaji karyawan tersebut jadi di bawah UMK yang baru.

“Lho, berarti kalau karyawan tersebut gajinya sudah sama atau bahkan di atas UMK yang baru, maka gajinya tidak harus dinaikkan setiap awal tahun, ya ?” tanya sahabat saya dengan rasa kaget.

“Memang begitu,” jawab saya. “Tetapi perusahaan tentu saja harus juga memikirkan aspek yang lain selain UMK yang baru di setiap awal tahun”.

“Apa itu ?” tanya sahabat saya.

“Perusahaan harus menentukan strategi lebih dulu, apakah karyawan tersebut akan tetap dipertahakankan di perusahaan itu karena kualitasnya baik, atau justru akan dibiarkan pindah ke perusahaan lain karena kualitasnya dinilai jelek di perusahaan tersebut,” kata saya.

“O…. Berarti perusahaan itu setiap awal tahun sudah membuat daftar nama tentang siapa saja yang gajinya dinaikkan supaya tetap bertahan bekerja di perusahaan tersebut, dan siapa saja yang dibiarkan keluar untuk bekerja di perusahaan lain, ya ?” kata sahabat saya menyimpulkan.

“Memang begitu,” kata saya

* * * * *

Karyawan yang integritasnya baik, kompetensi kerjanya —– pengetahuan kerja, ketrampilan, sikap kerja —– baik, dan produktivitasnya baik disebut sebagai karyawan yang kualitasnya baik. Perusahaan akan berusaha mempertahankan karyawan ini supaya tidak pindah ke perusahaan lain —– apalagi perusahaan pesaing —– karena dua alasan :

(I) Kalau karyawan berkualitas baik ini keluar, maka kekuatan  sumber daya manusia (SDM) perusahaan tersebut akan berkurang.

(II) Apalagi, kalai karyawan yang berkualitas baik tersebut justru pindah ke perusahaan pesain, maka hal ini akan memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) perusahaan pesaing.

“Lha kalau karyawan yang kualitasnya jelek, bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Sebaliknya, perusahaan akan mendorong karyawan yang kualitasnya jelek untuk pindah kerja ke perusahaan pesaing,” jawab saya.

“Biar posisi jabatan yang kosong yang ditinggalkan oleh karyawan berkualitas jelek itu bisa diisi oleh orang lain yang kualitasnya lebih baik, ya ?” kata sahabat saya.

“Benar ! Kamu sudah paham sekarang,” kata saya.

“Tetapi, apa ada perusahaan lain atau perusahaan pesain yang mau menerima karyawan berkualitas jelek seperti itu ?” tanya sahabat saya.

“Begini….. Seorang karyawan yang kualitasnya dinilai jelek di perusahaan A, belum tentu juga dinilai jelek di perusahaan B,” saya mencoba menjelaskan.

“Kok bisa ?” tanya sahabat saya.

“Bisa saja…. Sebab visi, misi, dan budaya perusahaan masing-masing prusahaan itu berbeda-beda,” jawab saya.

“Padahal, kualitas karyawan di mata manajemen perusahaan ini sangat menentukan kenaikan gaji di awal tahun, ya ?” tanya sahabat saya.

Saya mengangguk-anggukkan kepala, tanda setuju.

* * * * *

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan ini adalah :

(1) Kalau gaji karyawan sudah sama atau di atas UMK yang baru, maka gaji karyawan tersebut tidak harus dinaikkan di awal tahun. Tetapi apabila ternyata di bawah UMK yang baru, maka harus dinaikkan minimal sebesar UMK yang baru.

(2) Kenaikan gaji —– padahal gaji sudah di atas UMK yang baru —– harus memperhatikan kualitas karyawan. Kalau kualitas karyawan itu baik dan memang akan dipertahankan oleh manajemen perusahaan, maka gaji karyawan itu dinaikkan. Sebaliknya. Kalau kualitas karyawan itu jelek, maka gaji —– asalkan sudah di atas UMK yang baru —– tidak dinaikkan oleh manajemen perusahaan (dengan harapan karyawan berkualitas jelek itu segera melamar kerja / pindah kerja ke perusahaan lain / perusahaan pesaing.

(3) Kita sebagai karyawan harus selalu meningkatkan kualitas kita sesuai dengan visi, misi, dan budaya perusahaan yang baru.

“Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin”.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Indutri – anggota APIO, Ilmuwan Psikologi – anggota HIMPSI.

Profile Status
ACTIVE