Psikotes Tidak Selalu “Paper and Pencil”

801
Seleksi penerimaan karyawan baru tidak selalu berupa "paper and pencil test". Perusahaan bisa saja memberikan tugas berupa diskusi kelompok atau berupa permainan.

Ada banyak buku tentang psikotes yang dijual di toko buku. Saya tidak bisa melarang siapapun untuk membeli buku itu, karena itu merupakan hak-nya. Akan tetapi, apabila ada yang bertanya kepada saya tentang kebenaran dari isi buku itu, maka akan saya jawab secara lugas bahwa isi buku psikotes haruslah diwaspadai alias jangan dipercaya begitu saja. Mengapa demikian ?
Saya melihat salah satu buku tentang psikotes yang dijual di toko buku itu memberikan penjelasan dan contoh tentang bagaimana seharusnya menggambar pohon, orang, dan rumah + pohon + orang. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa gambar yang baik adalah yang seperti ini (diberikan contoh gambarnya, gambarnya bagus sekali).
Apa yang dikemukakan oleh buku itu sangat menyesatkan pembacanya (dan juga perusahaan yang menggunakan buku itu sebagai referensi karena tidak mempunyai psikolog di perusahaan itu). Gambar pohon, orang, rumah + pohon + orang harus dibuat sesuai dengan kemauan pelamar kerja, tidak boleh diarahkan harus begini atau begitu. Sebab, gambar ini mencitrakan diri pelamar kerja tersebut. Kalau gambar pohon, orang, rumah + pohon + orang dibuat sesuai contoh dalam buku psikotes yang dijual di toko buku, maka hasilnya adalah KEPALSUAN, dan psikolog yang melakukan psikotes pasti tahu tentang hal ini.

* * * * *

Selain tes yang bersifat tertulis (biasa disebut “paper and pencil test”), psikolog di perusahaan juga bisa menggunakan tes yang sifatnya berupa diskusi atau bahkan permainan. Hal ini dilakukan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai oleh psikolog perusahaan, yaitu memilih pelamar yang paling cocok untuk mengisi lowongan kerja yang teesedia.
“Lha terus bagaimana menyiasatinya ?” tanya sahabat baik saya.
“Kamu ini memang tidak pernah memperhatikan kata-kata saya! Psikotes itu tidak bisa disiasati!” jawab saya.
“Kenapa ?” tanya sahabat saya lagi.
“Karena dibuat sedemikian rupa supaya tidak bisa disiasati,” kata saya. “Yang harus dilakukan oleh pelamar adalah menjalankan sesuai perintah dari psikolog di perusahaan dengan jujur”.

* * * * *

Psikotes yang berupa diskusi kelompok dan berupa permainan akhir-akhir ini semakin banyak digunakan di perusahaan. Pelamar kerja harus melakukan apa yang diperintahkan dengan sungguh-sungguh dan sebaik mungkin. Psikolog di perusahaan akan mengamati dengan cermat semua perilaku pelamar selama menjalankan instruksi psikotes yang tidak bersifat “paper and pencil test” ini.
Hal yang harus dipersiapkan untuk menjalani psikotes yang tidak berupa “paper and pencil test” ini sederhana saja. Yang paling penting adalah menjaga kesehatan supaya pada saat menjalani psikotes badan dalam keadaan segar bugar (termasuk harus tidur cukup pada malam hari sebelum menjalani psikotes keesokan paginya).
Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan kali ini adalah :
(1) Psikotes tidak selalu berupa “paper and pencil test”, tetapi bisa berupa diskusi ataupun permainan.
(2) Psikotes harus dikerjakan sesuai instruksi psikolog di perusahaan, jangan mengikuti petunjuk buku panduan psikotes yang dijual di toko buku.
(3) Jagalah kesehatan terutama dengan tidur yang cukup (selama 8 jam) pada malam hari (sebelum menjalani psikotes keesokan paginya).
(4) Berdoalah kepada Tuhan Yang Mahaesa, karena mendapatkan pekerjaan merupakan anugerah dari-Nya.

* * * * *

Penulis adalah Komisaris BPR Restu Group sejak tahun 2007, Praktisi Psikologi Industri sejak 2002, anggota Himpunan Psikologi Industri (HIMPSI) dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE