Refleksi mencari Direksi BPR ?

577

Ilustrasi Direksi                                                                    (Sumber: http://www.timah.com)

Kemarin saya berkesempatan berbincang dengan pemilik BPR di Semarang. Disela-sela perbincangan tersebut beliau mengemukakan kebanyakan BPR sekarang masih kekurangan Direksi dalam artian jumlah direksinya baru satu atau bahkan tidak ada sama sekali. Ada juga BPR yang mengeluh karena direksinya dibajak oleh BPR lain dalam wilayah yang sama. Pertanyaan selanjutnya apa iya sih nyari direktur itu susah? untuk menjawab pertanyaan tersebut maka perlu di identifikasi spek atau criteria direktur yang seperti apa yang diinginkan?

Bila kita lihat direktur merupakan pimpinan BPR yang tertinggi yang mengelola BPR. untuk bisa mengelola BPR maka direksi harus bisa bermimpi, karena salah satu komponen yang dibayar perusahaan dari seorang direktur adalah mimpi. Ada pertanyaan apabila anda mau mengetes atau menyeleksi calon Direktur “Jika Anda menjadi direksi BPR ini, apa yang akan berbeda tiga tahun mendatang?” Jawaban pertanyaan ini memerlukan kemampuan direksi untuk merangkai mimpi.  Ketepatan mengubah mimpi menjadi visi dan strategi masa depan, akan menghasilkan kisah sukses yang membanggakan, demikian pula sebaliknya.

Jadi, memang benar, jika salah satu komponen gaji direktur adalah Mimpi. Namun mimpi seorang direktur memiliki nilai tinggi dan dampaknya bisa sangat mahal. Kualitas mimpi sangat ditentukan oleh kemampuan berpikir dalam jangka panjang, inilah yang disebut dengan Strategic Thinking.

Terdapat empat ciri strategic thinking yang berkualitas.

Pertama, adalah tajam dan sistematis dalam melihat sesuatu hal yang bersifat abstrak. Masa depan selalu abstrak, memikirkan masa depan ibarat melihat keluar  jendela dengan pandangan jauh ke depan, maka bisa jadi yang tampak hanya bayangan samar.

Untuk itu diperlukan beberapa asumsi sebagai alat bantu  untuk merangkai dan mewujudkannya agar lebih terlihat jelas dan nyata. Kecerdasan dalam melihat hasil riset dan analisa tren akan sangat membantu. Berpikir secara tajam berarti mengembangkan analisa  secara mendalam pada setiap fenomena sebab-akibat. Sedangkan sistematis berarti logis mengikuti urutan pola pikir yang rasional, tidak melompat-lompat atau terburu-buru menyimpulkan sebelum proses analisa lengkap dan selesai.

Kedua adalah sudut pandang selalu lengkap dan tuntas. Ketika berpikir stratejik, maka perusahaan selalu dilihat secara utuh pada semua produk dan jasanya, tidak abai pada pada satu pun unit yang terlibat, dan lengkap menata semua rangkaian yang ada, mulai dari debitur sampai dengan kreditur. Seluruhnya diamati dan dievaluasi secara faktual. Bahwa, nantinya ada yang dilihat lebih mendalam, pertimbangannya adalah hukum  prioritas. Prioritas nantinya diperlukan dalam konteks implementasi dikarenakan adanya keterbatasan sumberdaya.

Ketiga adalah dapat berpikir di luar paradigma yang sedang terjadi. Masa depan bukan saja berbeda karena dasar asumsi yang berbeda, namun juga bisa berbeda karena perbedaan paradigma, bahkan kejadian sebab-akibat yang nyata terlihat sekarang, bisa jadi di masa yang akan datang tidak  sesuai  lagi.Itu sebabnya, dalam strategic thinking perlu selalu berpandangan kritis, keluar dari kebiasaan (think outside of the box). Bahkan sampai pada ide paling ekstrim sekalipun tetap berguna untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan, disini kreativitas yang mendorong inovasi menjadi sangat diperlukan.

Keempat adalah dapat menganalisa secara efektif meskipun informasi tidak lengkap. Dengan demikian  melihat masa depan haruslah seperti menyusun puzzle yang hilang satu atau 2 keping. Ketajaman dalam mengembangkan asumsi-asumsi memiliki arti penting demi menutup kurangnya informasi dan  akan menjadi sangat penting dan menentukan keberhasilan dalam merancang rencana masa depan. Dengan berbekal strategic thinking, direktur menuangkan mimpinya dalam bentuk Visi dan Misi yang kemudian diturunkan menjadi rencana stratejik yang diaplikasikan dalam Arah, Sasaran, dan Program Kerja. Sehingga dapat dibenarkan jika mimpi seorang direktur dinilai tinggi, karena hal inilah yang akan menjadi faktor pembeda.

Dari uraian diatas saya bisa memahami memang sulit untuk mencari direksi yang sempurna yang menjadi refleksi kita sekarang adalah Apakah direktur BPR anda Sudah memiliki keempat ciri diatas? Atau direksi anda hanya sekedar pelaksana dan tidak memiliki pemikiran strategis? Atau hanya sebagai penggenap penderita saja….hehehehehe……

 

  • Eko Prasetiyo, S.E., M.M., Akt.                                                                                    Komisaris BPR Restu Group
Profile Status
ACTIVE