Sudah Jadi Karyawan, Kok Psikotes Lagi ?

381
Keterangan : Perusahaan secara berkala bisa saja melakukan psikotes kepada karyawannya, sesuai kebutuhan perusahaan untuk mengembangkan karyawannya

 * * * * *

“Saya sudah jadi karyawan lima tahun, kok masih disuruh ikut psikotes,” kata sahabat saya.

“Kapan terakhir kamu menjalani psikotes di perusahaan itu ?” tanya saya.

“Ya lima tahun lalu, waktu seleksi penerimaan karyawan baru,” jawab sahabat saya.

“Kamu diberitahu perusahaan, untuk apa psikotes itu ?” tanya saya.

“Katanya untuk promosi jabatan,” jawab sahabat saya.

* * * * *

Kata “psikotes” bagi beberapa orang memang terdengar menakutkan, termasuk bagi karyawan yang sudah lama bekerja di suatu perusahaan dan diharuskan oleh perusahaan itu untuk menjalani psikotes. Ketakutan ini timbul karena kurangnya pemahaman karyawan yang bersangkutan tentang tujuan dilakukannya psikotes, apakah untuk promosi jabatan, ataukah untuk pengurangan jumlah karyawan.

* * * * *

“Bagaimana kalau perusahaan tidak menjelaskan untuk apa psikotes itu dilakukan ?” tanya sahabat saya.

“Kamu harus mengerjakan psikotes itu dengan sebaik-baiknya,” jawab saya. “Supaya kalau ternyata psikotes itu untuk promosi jabatan, kamu bisa terpilih sebagai karyawan yang dapat promosi jabatan. Sebaliknya, kalau ternyata psikotes itu untuk pengurangan karyawan, kamu terpilih untuk tetap dipekerjakan di perusahaan itu”.

“Seberapa besarnya pengaruh psikotes pada keputusan perusahaan ?” tanya sahabat saya.

“Besar sekali. Dalam hal promosi jabatan, kalau ada dua karyawan dengan produktivitas yang sama baiknya, maka yang terpilh mendapatkan promosi jabatan adalah yang hasil psikotesnya lebih mendekati tuntutan perusahaan untuk jabatan baru tersebut,” kata saya.

“Kalau untuk pengurangan karyawan ?” tanya sahabat saya.

“Sama juga. Kalau ada dua karyawan yang produktivitasnya sama-sama beradap pada ranking bawah, maka yang dipilih perusahaan untuk tetap diberi kesempatan kerja adalah karyawan yang hasil psikotesnya lebih mendekati tuntutan perusahaan untuk jabatan tersebut,” kata saya.

* * * * *

Kesimpulan yang didapat dari edisi kali ini adalah :

  1. Karyawan harus selalu siap kalau harus menjalani psikotes yang diperintahkan perusahaan (meskipun karyawan itu sudah lama  bekerja di perusahaan tersebut).
  2. Kerjakanlah psikotes dengan sebaik-baiknya, meskipun karyawan tidak diberitahu oleh perusahaan :  untuk apa psikotes itu dilakukan.
  3. Kerjakan psikotes sesuai dengan kondisi diri sendiri; jangan mencontek jawaban orang lain dan jangan mengerjakan psikotes —– terutama psikotes gambar —– seperti yang dicontohkan “buku-buku panduan psikotes” yang banyak dijual di toko-toko buku, sebab setiap perusahaan memiliki tuntutan sendiri-sendiri sesuai jabatan yang tersedia. Hasil psikotes bukanlah seperti 2 + 2 yang jawabannya harus sama dengan 4; hasil psikotes yang dikatakan bagus untuk perusahaan A, bisa dikatakan jelek untuk perusahaan B, padahal jabatan di perusahaan A sama dengan jabatan di perusahaan B (A dan B adalah dua perusahaan yang berbeda).

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi – Anggota HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), Anggota APIO (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi, Komisaris BPR Restu Group.

Profile Status
ACTIVE