Wisata Edukasi di Keraton Surakarta Hadiningrat

803

Keraton Surakarta Hadiningrat (Surakarta Royal Palace) adalah istana resmi dari Kasunanan Surakarta. Terletak di pusat kota Surakarta, Jawa Tengah, keraton ini didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram ini didirikan di Desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan Solo. Setelah resmi istana Kesultanan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Sri Susuhunan Pakubuwono II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Walaupun saat ini keraton menjadi sebuah situs pariwisata, namun tak semua bagian keraton terbuka untuk umum. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

IMG_20151024_132347 Halaman Sasana Sewaka
(Sumber: Dokumentasi Pribadi – Isniati Dyah Utami)

Dari pintu masuk kita akan langsung disambut dengan rimbunan pohon sawo kecik di halaman keraton   Sasana Sewaka. Sawo kecik sering dijadikan tanaman pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem keraton. Dalam filsafat Jawa sawo kecik memiliki arti sarwo becik (serba baik).  Jadi dengan di tanamnya pohon sawo kecik, diharapkan akan mendatangkan aura positif. Hamparan pasirnya juga terasa sangat lembut di telapak kaki. Konon pasir yang ada diambil langsung dari gunung Merapi dan pantai Parangkusumo.

555f6aa90423bdf2668b456d Bangunan Sasana Sewaka
(Sumber: Dokumentasi Pribadi – Isniati Dyah Utami)

Tepat di bagian tengah terdapat Sasana Sewaka yang agung. Empat pilar yang dibungkus kain kuning merupakan pilar berlapis emas murni. Begitupun dengan lampu kristal gantung yang terbungkus kain yang sama. Hanya hari-hari tertentu saja kain penutup ke empat pilar dan lampu dibuka. Di sini pengunjung hanya bisa melihat dari jauh (tidak diperbolehkan naik). Di dalam halaman kita juga akan menjumpai bangunan yang berupa menara dengan 5 lantai setinggi lebih kurang 35 meter yakni Panggung Sangga Buana..  Menara yang dibangun tahun 1782 ini dulunya berfungsi sebagai tempat meditasi raja-raja. Konon di tempat ini pulalah para raja bertemu dan berkomunikasi dengan Nyai Roro Kidul yang notabene merupakan penguasa pantai selatan. Selain tempat bersemedi dan meditasi, menara ini juga digunakan untuk mengontrol keadaan di sekeliling keraton.

IMG_20151024_132423

Setelah puas berkeliling di halaman, kita bisa masuk ke dalam lingkungan museum keraton. Sebelum memasuki areal museum keraton (areal Sasana Sewaka), terdapat tata tertib/peraturan yang harus kita taati. Yang salah satunya kita dilarang mengambil atau membawa pasir dari dalam hakaman masuk ke dalam museum keraton. Pada prinsipnya museum yang terdiri dari 2 buah bangunan ini dibagi menjadi 9 ruangan. Dari foto-foto dan kursi singgasana yang berukir, aneka benda dari perunggu dan batik, adegan pengantin Jawa dan perlengkapannya, adegan kesenian rakyat (termasuk berbagai macam koleksi wayang), berbagai bentuk topeng dan relief, berbagai macam alat dan perlengkapan untuk upacara kerajaan, koleksi kereta dan joli kerajaan, sampai tempat Kyai Rajamala ada dalam koleksi museum ini. Sebagian dari benda-benda yang ada di museum sepertinya masih di keramatkan. Hal ini terlihat dari adanya sesaji-sesaji dan pembakaran dupa-dupa di sekitar benda yang dianggap keramat tadi.

IMG_20151024_135400

Kyai Rajamala
(Sumber: Dokumentasi Pribadi – Isniati Dyah Utami)

Rajamala merupakan patung kepala raksasa yang digunakan untuk hiasan perahu pada jaman Paku Buwono IV. Bahkan terdapat tulisan peringatan “dilarang menyentuh”  koleksi benda-benda di sini.

IMG_20151024_133730

Peralatan Upacara Kerajaan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi – Isniati Dyah Utami)

Pengunjung tidak hanya berasal dari kaum dewasa, anak-anak ,dan remaja yang sekedar ingin menikmati waktu liburan mereka dengan mengunjungi keraton. Banyak siswa siswi yang mengunjungi keraton sebagai sarana edukasi. Jadi tidak lengkap rasanya kalo kita ke kota Solo tetapi tidak mampir dulu ke Keraton Surakarta. Jalan- jalan sekaligus kita bisa menambah wawasan kebudayaan kita dengan mempelajari sejarah keraton.

IMG_20151024_133558

Para siswa mendengarkan dengan seksama penjelasan guide keraton tentang silsilah raja Kasunanan Surakarta
(Sumber: Dokumentasi Pribadi – Isniati Dyah Utami)

Ditulis oleh : Isniati Dyah Utami
(Jurnalis PT BPR Restu Artha Abadi)

0 comments
Profile Status
ACTIVE