Bagaimana Menyiasati Psikotes ?

226

Psikotes untuk Mengukur Kecocokan antara Pelamar dengan Lowongan yang Tersedia (Foto:Constantinus J. Joseph)

Entah kenapa, pertanyaan seperti itu masih saja diajukan oleh para pelamar kerja yang penasaran untuk bisa menyiasati psikotes.

“Buat apa kamu ingin menyiasati psikotes ?” tanya saya.

“Ya biar bisa diterima menjadi karyawan,” begitu jawab mereka.

* – * – * – * – *

Psikotes memang bikin para pelamar kerja. Sebab, memang tidak pernah bisa disiasati. Banyak pelamar kerja yang tumbang alias tidak bisa melanjutkan proses seleksi karyawan baru karena psikotes.

“Sebenarnya, bagaimana sih mengerjakan psikotes biar bisa lulus ?” tanya seorang kenalan saya dengan penuh rasa penasaran.

Saya hanya tersenyum memaklumi rasa penasarannya. “Istri saya saja waktu mau menjalani psikotes tidak saya beritahu,” jawab saya diplomatis.

* – * – * – * – *

Tidak memberitahu apapun tentang bagaimana mengerjakan kepada istri yang akan menjalani psikotes di tempat kerjanya, merupakan pengalaman yang berkesan bagi saya. Di satu pihak, saya sangat ingin supaya istri saya bisa mengerjakan dengan baik dan lulus psikotes, supaya istri saya tetap bisa bekerja di perusahaan tempat kerjanya. Di lain pihak, saya tahu pasti bahwa memberikan arahan kepada istri saya berarti menjerumuskan istri saya. Maka, saya memilih untuk tidak memberikan arahan apapun kepada istri saya.

“Kalau saya memberikan arahan mengerjakan psikotes supaya kamu mengerjakan begini atau begitu, percuma saja kalau itu sebenarnya tidak sesuai dengan dirimu. Kamu bisa saja lulus psikotes karena itu, tetapi kamu justru bisa stres dan tidak produktif karena sebenarnya kamu tidak cocok di pekerjaan itu,” kata saya kepada istri saya.

Untunglah istri saya mau mengerti, dan tidak protes. Untunglah, dia lulus psikotes itu tanpa perlu saya berikan arahan apapun. Jadi, memang hasil psikotes itu sesuai dengan keadaan dirinya, apa adanya.

* – * – * – * – *

“O…. Jadi psikotes itu untuk menentukan apakah seorang pelamar itu cocok atau tidak untuk mengisi posisi jabatan yang kosong, ya ?”

“Tepat sekali. Kemampuan intelektual dan kepribadian termasuk minat dan bakat  diukur dalam psikotes untuk mengukur kecocokan dengan tuntutan posisi jabatan yang tersedia, supaya pelamar yang diterima dapat menjalankan pekerjaan dengan baik karena memang sesuai dengan dirinya, bukan karena dipaksakan. Dengan demikian dia dapat bekerja dengan produktif dan bahagia,” jawab saya. “Lagi pula, kalau jawabannya dibuat begini atau begitu padahal tidak sesuai dengan diri pelamar tersebut, Psikolog yang mengetes juga akan tahu, dan akhirnya dinyatakan tidak lulus juga”.

—– oOo —–

Ditulis oleh : Constantinus J. Joseph

(Praktisi HR BPR Restu Group, Angota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) & Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO)

 

 

Profile Status
ACTIVE