Berkomunikasi & Bekerja Sama Dengan Orang yang Berbeda Tipe Kepribadiannya

253
Keterangan : Orang tipe "singa" lebih suka bergaul dengan orang bertipe "singa". Demikian juga, orang bertipe "lumba-lumba", "koala", maupun "kancil" lebih suka bergaul dengan orang yang bertipe sama dengan dirinya. Padahal, adalah penting dan sangat berguna kalau bisa melatih diri untuk bergaul dengan orang yang tipe kepribadiannya berbeda, karena hal ini akan meningkatkan fleksibilitas dalam bergaul.

* * * * *

“Saya di kantor paling tidak cocok dengan Si Anu,” kata sahabat baik saya.

“Kenapa ?” tanya saya.

“Dia itu orangnya keras,” jawab sahabat saya.

“Lha, apa salahnya ?” pancing saya.

“Ya begitu itu,” kata sahabat saya. “Dia itu tidak sungkan untuk ribut dengan siapapun juga”.

“Ribut bagaimana ?” tanya saya, kali ini justru saya yang terpacing, ingin tahu.

“Ribut itu yang menyuruh orang lain begini, menyuruh orang lain begitu,” kata sahabat saya.

“Lha dia sendiri melakukan hal itu atau tidak ?” tanya saya.

“Memang, sih….. Dia sendiri juga melakukan apa yang dia katakan kepada orang lain,” jawab sahabat saya.

“Jadi, dia bukan hanya asal suruh, dong….,” kata saya.

“Iya, dia memang pekerja kerjas. Dia tidak suka orang lain lamban atau bermalas-malasan, karena dia sendiri juga cekatan,” kata sahabat saya.

* * * * *

Sebagaimana sudah ditulis dalam edisi sebelumnya, masing-masing orang memiliki tipe kepribadian yang berbeda-beda. Ibaratnya, ada yang bertipe “singa”, ada yang bertipe “lumba-lumba”, ada yang bertipe “koala”, dan ada yang bertipe “kancil”. Pengibaratan ini sudah disesuaikan dengan budaya di Indonesia, di mana “kancil” memang dalam dongeng anak-anak adalah binatang yang sangat cerdik (padahal, dalam kenyataannya, lumba-lumba lebih cerdik; sedangkan menurut penelitian, binatang yang laing cerdik adalah simpanze !)

Sudah umum, bahwa orang yang bertipe “singa” lebih suka berkumpul dengan orang yang juga bertipe “singa”, dan merasa kurang cocok kalau berkumpul dengan orang yang bertipe “koala”. Bagi orang yang bertipe “singa”, orang yang bertipe “koala” itu terlalu pendiam, terlalu pasif, terlalu adem ayem !

Demikian pula, orang yang bertipe “koala” juga lebih suka berkumpul dengan orang yang bertipe “koala”, dan merasa kurang cocok kalau berkumpul dengan orang yang bertipe “singa”. Mengapa ? Bagi orang yang bertipe “koala”, orang yang bertipe “singa” adalah orang yang keras dan tidak ragu mengatur bahkan memarahi orang lain, juga tidak sabaran.

Begitu juga dengan orang yang bertipe “lumba-lumba” maupun yang bertipe “kancil”.

Dalam dialog di atas, sahabat saya mengeluhkan tentang teman kerjanya yang bertipe “singa”, sedangkan sahabat saya itu bertipe “koala”. Jadi, memang tipenya berbeda.

* * * * *

“Apakah saya tidak boleh mengeluh tentang teman kerja yang bertipe ‘singa’ itu ?” tanya sahabat saya.

“Mengeluh itu adalah hak kamu,” jawab saya. “Meskipun, belum tentu itu berguna buat kamu”.

“Maksudnya bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Apakah dengan kamu mengeluhkan dia, maka dia akan berubah seperti yang kamu inginkan ?” tanya saya.

“Ya tidak sih….,” jawab sahabat saya.

“Nah, apa kamu juga berpikir, bahwa dia juga mengeluh tentang kamu yang tidak seperti dia ?” tanya saya.

“Ya bisa juga…..,” jawab sahabat saya.

“Itulah…..,” kata saya. “Mengeluh itu tidak berguna untuk merubah dia menjadi seperti kamu”.

“Terus harus bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Justru kamu harus melihat hal-hal positif yang ada pada orang bertipe ‘singa’ seperti dia, untuk kemudian kamu pelajari dan kamu gunakan ketika kamu harus berkomunikasi atau bekerja sama dengan orang lain yang bertipe ‘singa’…,” jawab saya. “Demikian pula, kamu juga belajar tentang nilai positif dari teman kamu yang lain yang bertipe ‘lumba-lumba’ maupun ‘kancil’, kalau kamu sendiri bertipe ‘koala’….”.

“O….. Jadi begitu, ya ?” kata sahabat saya. “Jadi bukannya mengeluh, tapi saya harus belajar memahami dia dan berkomunikasi dengan dia, ya ?”

“Benar sekali,” kata saya. “Kamu tidak akan bisa merubah dia menjadi seperti kamu, demikian pula sebaliknya. Tetapi kamu bisa menyesuaikan diri ketika berkomunikasi dan bekerja sama dengan dia. Semua ‘kan ciptaan Tuhan, jadi sama baiknya. Dengan begitu, kamu menjadi orang yang FLEKSIBEL, yang bisa berkomunikasi dan bekerja sama dengan berbagai macam tipe orang”.

—–oOo—–

Penulis adalah praktisi psikologi industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO)

Profile Status
ACTIVE