Bersiaplah Menjalani Metode Tes yang Tidak Umum

2803
Keterangan : Perusahaan bisa menggunakan berbagai macam cara untuk mengetahui kepribadian seorang pelamar kerja

*****

“Wah, perusahaan itu tidak bonafid !” kata sahabat saya menggerutu.

“Kok kamu bisa bilang begitu ?” tanya saya.

“Iya. Saya kemarin diundang untuk tes pk. 09.00, ternyata baru pk. 10.00 dimulai,” jawab sahabat saya.

“O… Itu sih kecil…. Saya dulu pernah diundang untuk tes pk. 08.00 di sebuah perusahaan. Saya datang 1 jam sebelumnya, supaya bisa bersiap-siap dan melakukan orientasi tentang kondisi perusahaan itu. Eh, ternyata saya baru dites pk. 17.00 !” kata saya sambil tertawa.

“Kamu jengkel ?” tanya sahabat saya.

“Tidak,” jawab saya.

“Kamu diterima ?” tanya sahabat saya lagi.

“Tentu saja,” jawab saya.

“Dan kamu mau bekerja di perusahaan seperti itu ?” tanya sahabat saya penasaran.

“Tentu saja ! Itu adalah sebuah perusahaan yang bonafid, yang beroprasi di berbagai negara di seluruh dunia !” kata saya. “Dan tes yang diundur dari pk. 08.00 menjadi pk. 17.00 tanpa pemberitahuan lebih dulu kepada saya, tidak menurunkan bonafiditasnya”.

“Kok kamu bilang begitu ?” tanya sahabat saya.

“Karena itu merupakan metode seleksi mereka !” jawab saya. “Mereka boleh menggunakan metode apapun yang mereka nilai memberikan hasil yang cocok untuk mereka”.

*****

Ini adalah pengalaman saya di tahun 1999. Saat itu, saya melamar di sebuah perusahaan yang mempunyai cabang di seluruh belahan bumi. Suatu ketika, saya menerima telepon dari perusahaan itu, supaya saya hadir pada tanggal dan waktu yang sudah ditentukan, dan saya menyanggupinya.

Saya sampai di perusahaan itu pk. 07.00, satu jam sebelum waktu yang ditentukan oleh perusahaan. Saya langsung mengisi buku tamu di Bagian Security dan kemudian dipersilakan menunggu di Ruang Human Resources. Ternyata, hari itu hanya saya yang dipanggil untuk mengikuti tes.

Pk. 08.00, saya belum dipanggil untuk tes. Saya mengisi waktu dengan membaca-maca majalah maupun buku yang ada di ruang tamu.

Pk. 09.00, saya belum dipanggil juga. Saya masih membaca majalah dan buku yang ada di ruang tamu, tapi mulai jenuh juga. Maka, saya mulai membuka pembicaraan dengan staf Human Resources yang saya lihat sedang tidak terlalu sibuk bekerja.

Pk. 10.00, masih belum dipanggil juga. Tetapi Head of Human Resources-nya sempat menyapa saya dengan ramah dan mengatakan, “tunggu dulu, ya !”

Saya pun masih melanjutkan berbicara dengan staf Human Resources yang lain, yang saya lihat sedang tidak terlalu sibuk bekerja.

Pk. 11.00, saya masih belum dipanggil tes juga, tetapi malah diberi kupon untuk makan siang di kantin perusahaan oleh salah seorang staf Human Resources. Saya masih berkeliling dan bercakap-cakap dengan staf Human Resources yang lain. Staf Human Resourcesnya ada sekitar 10 orang. Mereka menanggapi saya dengan ramah, sambil tetap melakukan pekerjaannya.

Pk. 12.00,  saya dipersilakan untuk makan siang di kantin. Saya makan sambil beramah – tamah dengan para karyawan yang sedang makan siang.

Pk. 13.00, saya kembali ke Ruang Human Resources, dan masih melanjutkan percakapan dengan para staf Human Resources seperti tadi. Tahun itu belum zamannya gadget / smartphone seperti sekarang ini, jadi (tentu saja) tidak bisa membuka berita dari internet.

Pk. 14.00 sama saja ….
Pk. 15.00 sama saja ….
Pk. 16.00 sama saja, dan para staf Human Resources bersiap-siap pulang pk. 16.30 ….
Pk. 16.30, para staf Human Resources mulai pulang, Ruang Human Resources sepi, hanya ada beberapa staf yang masih bekerja ….

Pk. 17.00 …. Akhirnya ! Saya dipanggil juga !

*****

Saya dipersilakan masuk ke dalam ruang milik Head of Human Resources. Pria berusia 45 tahunan itu tersenyum ramah menyapa saya.

“Apa yang kamu lakukan seharian ini ?” tanya beliau.

Lalu saya pun menceritakan apa yang saya lakukan. Tidak ada sikap apalagi kata-kata yang menunjukkan bahwa saya jengkel maupun protes. Saya tetap ceria, tetap bersemangat.

“Bagus ! Kamu adalah orang yang bisa beradaptasi dan mengatasi rasa bosan di bawah tekanan ! Kamu lulus seleksi tahap ini. Untuk tahap selanjutnya, kamu akan diberi kabar lewat telepon,” kata Bapak Head of Human Resources.

Saya sempat heran. “Jadi, tes-nya memang seperti ini ?” kata saya dalam hati.

*****

Beberapa hari kemudian saya menerima telepon dari perusahaan yang sama. Saya diminta untuk mengikuti seleksi tahap akhir di kantor pusat perusahaan tersebut.

Pada tanggal yang ditentukan, saya sudah berada di kantor pusat perusahaan tersebut, satu jam sebelum waktu seleksi. Saya selalu datang lebih awal, supaya bisa mempersiapkan diri dan melakukan observasi pada lingkungan kerja dan orang-orang yang bekerja di kantor pusat perusahaan tersebut.

Dan kejadian yang tempo hari terjadi, terulang lagi ….

Saya dibiarkan menunggu sendirian di sebuah ruang tamu Direktur yang sejuk karena AC, di mana di situ hanya ada majalah dalam Bahasa Inggris tentang industri perusahaan itu.

Maka, saya pun membaca majalah Bahasa Inggris itu, berkali-kali, sampai (hampir) hafal.

Seperti biasa, waktu seleksi molor juga, namun kali ini tidak sampi pk. 17.00 seperti tempo hari. Pada saat saya dipersilakan masuk ke dalam ruang Direksi, pertanyaan yang harus saya jawab adalah, “Apa yang kamu lakukan sambil menunggu tadi ?”

Setelah saya menjawab bahwa saya membaca majalah yang ada, maka pertanyaannya adalah, “Ceritakan dengan kalimatmu sendiri tentang apa yang sudah kamu baca”.

Dan saya pun menceritakan apa yang sudah saya baca. Tentu saja, semua tanya jawab ini dilakukan dalam Bahasa Inggris, karena Bapak Direktur ini adalah orang asing dan tidak bisa Bahasa Indonesia.

Akhirnya tes wawancara dalam Bahasa Inggris ini selesai. Saya diperkenankan pulang. Dan beberapa hari kemudian saya diberi kabar bahwa saya diterima sebagai karyawan perusahaan yang bonafid itu, dan saya bekerja di perusahaan itu selama 3 tahun. (Saya akhirnya mengundurkan diri karena saya memilih kembali ke Semarang, karena keluarga saya di Semarang dan saya bersama istri ingin membesarkan anak kami di kota kelahiran saya ini. Bagaimana pun, pengalaman bekerja di perusahaan ini sangat menyenangkan).

*****

“O…. Jadi memang mereka menyuruh kamu menunggu untuk melihat apa yang kamu lakukan selama harus menunggu, ya ?” tanya sahabat saya.

“Benar ! Dan saya lulus,” kata saya.

*****

Kesimpulan yang bisa didapat dari tulisan edisi kali ini adalah :

(1) Tetaplah berdoa supaya mendapat kekuatan ketika harus menjalani tes dengan metode yang tidak terduga.

(2) Selalu berpikir dan bersikap positif, serta memiliki daya tahan fisik dan psikis yang tinggi, karena perusahaan ingin mempunyai karyawan yang seperti ini.

Semoga bermanfaat dan semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri dan Organisasi. Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE