Bijak dalam Mengkonsumsi Jeroan

115

Semarang, RestuMagz – Beberapa hari terakhir ini kita tentu mendengar terkait rencana kebijakan pemerintah dalam Impor Jeroan Sapi untuk mengatasi harga daging sapi yang mahal. Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan kebijakan tersebut, mari buka wawasan kita tentang apa itu “jeroan” dan bagaimana kita menyikapinya secara bijak.

Sewaktu saya kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (2004-2008) dan Universitas Diponegoro (2008 – 2010), saya pernah belajar tentang Manajemen Ternak Potong dan Kesehatan Ternak disana dibahas mengenai produk ternak potong. Produk ternak potong dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian karkas dan bagian bukan karkas atau lazim disebut bagian non karkas.  Karkas merupakan hasil utama pemotongan ternak dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi daripada non karkas, sesuai dengan tujuan pemotongan ternak, yaitu untuk mendapatkan daging.  Bagian non karkas atau yang lazim disebut “offal” terdiri dari bagian yang layak dimakan (“edible offal” = Jeroan terdiri dari jantung, lidah, hati, daging di kepala, otak, timus dan atau pankreas, babat, usus, ginjal, buntut) dan bagian yang tidak layak dimakan (“inedible offal” = tepung tulang, tepung darah, dan bermacam-macam hasil olahan yang berasal dari kulit, tanduk dan kuku).

Berdasarkan uraian saya diatas, “jeroan” termasuk produk hasil ternak potong yang dapat “dikonsumsi”.  Dibeberapa negara termasuk Indonesia, “jeroan” sering digunakan dalam masakan tradisional seperti sate, soto, tengkleng, kari, sambal goreng ati, dan masih banyak yang lainnya.  Dari segi gizi, “Jeroan” banyak mengandung zat gizi, di antaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Vitamin utama yang banyak terdapat pada jeroan adalah B kompleks, terutama vitamin B12 dan asam folat.  Selain itu, hati juga kaya akan vitamin A. Mineral pada jeroan di antaranya zat besi, kalium, magnesium, fosfor, dan seng. Kandungan zat gizi per 100 g jeroan.  Namun demikian, “jeroan” juga menyimpan zat yang berbahaya bagi tubuh, antara lain kolesterol, asam purin dan sejumlah parasit.

Sebagai konsumen yang bijak, maka selanjutnya untuk keputusan mengkonsumsi “jeroan” saya serahkan kepada anda.   Demikian yang dapat saya sampaikan, tetap sehat, produktif, dan bahagia.

Penulis   : Franes Pradusuara, S.Pt., M.Si

Profile Status
ACTIVE