Competitive Advantage : Apa yang Menonjol ?

64

*****

“Apa pewawancara selalu meminta bukti nyata atas apa yang ditulis pelamar kerja dalam Daftar Riwayat Hidupnya ?” tanya sahabat saya.

“Mengapa kamu bertanya begitu ?” tanya saya.

“Begini….. Anak saya sedang melamar kerja. Dia menulis di Daftar Riwayat Hidupnya bahwa dia dulu ikut kegiatan ekstra kurikuler karate saat SMA,” kata sahabat saya. “Masalahnya, memang waktu itu dia hanya mendapat nilai ekstra kurikuler di rapornya, tetapi tidak ada sertifikatnya”.

“Kalau duduk permasalahannya begitu, maka dalam Daftar Riwayat Hidup tetap ditulis saja bahwa dia dulu ikut karate sebagai kegiatan ekstra kurikuler saat SMA, tetapi tidak mendapat sertifikat, hanya mendapat nilai di Rapor saja,” kata saya.

“Apa pewawancara akan percaya begitu saja ?” tanya sahabat saya.

“Tentu saja tidak,” jawab saya. “Maka lembar Rapor SMA yang ada tulisan yang menunjukkan bahwa dia ikut kegiatan ekstra kurikuler karate, harus difotokopi, kemudian fotokopi itu harus dilampirkan pada berkas lamaran “.

“Apa ada kemungkinan bahwa anak saya harus memperagakan jurus-jurus karate pada saat wawancara seleksi penerimaan karyawan baru ?” tanya sahabat saya.

“Jelas,” kata saya.

“Bagaimana kalau anak saya ternyata sudah tidak hafal jurus itu ?” tanya sahabat saya lagi.

“Ya kegiatan ekstra kurikuler karate itu jangan ditulis dalam Daftar Riwayat Hidup,” jawab saya. “Kalau ditulis dalam Daftar Riwayat Hidup tetapi tidak bisa memperagakan, maka dia dinilai oleh pewawancara sebagai orang yang hanya mengaku-ngaku bisa karate”.

*****

Ketrampilan khusus seperti karate memang merupakan nilai lebih bagi seorang pelamar, asalkan pelamar itu bisa memperagakan jurus-jurus karate yang dikuasainya. Pelamar harus memperhitungkan kemungkinan bahwa pewawancara memahami karate dan meminta pelamar untuk membuktikannya dengan melakukan peragaan.

Apabila pelamar ternyata mahir melakukan peragaan pada saat wawancara, maka ketrampilan karate ini menjadi “competitive advantage” (nilai lebih) pelamar tersebut dibandingkan pelamar yang lain. Sebaliknya, apabila pelamar ternyata tidak mahir melakukan peragaan, maka pelamar tersebut dinilai hanya mengaku-ngaku saja, dan sebenarnya tidak menguasai karate; artinya, pelamar justru mendapat nilai minus karena hal ini.

*****

“Wah, jadi anak saya harus  berhati-hati dalam memulis Daftar Riwayat Hidup, ya ?” tanya sahabat saya. “Dia harus mahir memperagakan setiap hal yang dia tulis dalam Daftar Riwayat Hidup, ya ?”

“Tentu saja,” kata saya. “Pewawancara bisa saja tidak puas dengan fotokopi berkas yang dilampirkan dalam berkas lamaran, dan meminta pelamar untuk bisa memperagakannya”.

*****

Apa yang bisa disimpulkan dari tulisan kali ini ?

  1. Bahwa pelamar harus mempersiapkan diri untuk memperagakan apa saja yang ditulisnya dalam Daftar Riwayat Hidup.
  1. Kalau ada ketrampilan yang dulu dikuasai pelamar (tetapi sekarang tidak lagi) misalnya ketrampilan karate, maka pelamar jangan menuliskan ketrampilan khusus karate ini. Jangan sampai hal yang dimaksudkan menjadi “competitive advantage” ternyata berbalik arah / menjadi “boomerang” yang membuat pelamar justru tidak diterima sebagai karyawan  di perusahaan tersebut.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Karate, Praktisi Psikologi Industri, Anggota HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), dan Anggota APIO (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi).

Profile Status
ACTIVE