Hati-Hati dengan Gaya Hidupmu !

159
Keterangan : Gaya hidup karyawan mencerminkan tujuan, kemampuan intelektual, dan kepribadian karyawan. Perusahaan yang baik selalu mengecek kesesuaian gaya hidup karyawannya dengan budaya perusahaan tersebut.

*****

“Atasan saya itu aneh. Kemarin teman saya membeli smartphone baru dengan uangnya sendiri, kok atasan tanya-tanya untuk apa beli smartphone baru yang mahal, kenapa belinya tipe yang canggih, dan  masih banyak lagi. Aneh, ‘kan ?” gerutu sahabat baik saya.

“Tidak aneh,” kata saja.

“Kok tidak aneh ? Itu ‘kan belinya pakai uang dia, yang pakai juga dia, dan tidak merugikan perusahaan….. Buat apa atasan tanya-tanya seperti itu ?” kata sahabat saya lagi.

“Kamu bilang teman kamu itu beli smartphone yang mahal, ya ? ” tanya saya.

“Ya,” jawab sahabat saya.

“Memangnya dia itu jabatannya apa di perusahaan ?” tanya saya lagi.

“Dia masih staf biasa saja, sih….,” kata sahabat saya.

“Apa gajinya besar sampai bisa beli smartphone mahal ?” tanya saya lagi.

“Tidak juga. Teman itu belinya kredit,” jawab teman saya.

“O…. Jadi belinya kredit, karena tidak mampu beli tunai, ya ?” tanya saya memastikan.

“Iya. Teman saya itu bilang ke saya begitu. Tapi ‘kan dia membayar cicilan kreditnya pakai gaji dia juga ‘kan ?” kata teman saya.

Saya tersenyum.

“Teman kamu itu canggih, ya ? Makanya dia beli smartphone yang canggih juga,” pancing saya.

“Tidak juga. Dia ini tidak begitu canggih kalau memakai komputer dan semacamnya, termasuk smartphone,” jawab teman saya.

“Lho ? Terus beli smartphone canggih buat apa ?” pancing saya lagi.

“Ya…. Namanya juga anak muda…. ‘Kan ingin bergaya juga…. Biar tampil keren, begitu….,” kata sahabat saya.

“Nah, ini dia masalahnya….,” kata saya.

“Masalah ? Masalah apa ? Memangnya teman saya itu bermasalah ?” tanya sahabat saya.

“Ya !” kata saya memastikan. “Dia memang bermasalah ! Setidaknya, dia punya potensi jadi orang bermasalah bagi perusahaan”.

*****

Manajemen perusahaan yang baik selalu mengecek tentang lima hal ini : (1) Tujuan hidup karyawannya, (2) Kemampuan intelektual karyawannya, (3) Kepribadian karyawannya, (4) Pengalaman, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap kerja karyawannya, (5) Pendidikan formal karyawannya. Informasi tentang hal-hal tersebut perlu di-up date oleh manajemen perusahaan selama karyawan bekerja di perusahaan itu, artinya sejak masih menjalani seleksi penerimaan karyawan baru sampai karyawan berhenti kerja (termasuk pensiun).

Untuk apa perusahaan mengecek hal-hal itu ? Jawabannya jelas : untuk mengecek apakah (secara khusus) karyawan itu masih sesuai untuk bekerja di posisi jabatannya yang sekarang, dan apakah (secara umum) karyawan itu masih sesuai bekerja di perusahaan tersebut. Ada perusahaan yang sangat menuntut kedewasaan berpikir, bersikap, dan bertindak para karyawannya, baik itu karyawan lama maupun karyawan baru. Perusahaan seperti ini melihat bahwa sikap karyawan sebagaimana dibahas dalam percakapan di atas sudah mulai tidak cocok dengan perusahaan : gajinya masih kecil tapi sudah beli smartphone (dengan cara kredit), beli smartphone canggih hanya untuk bergaya (lebih mengutamakan penampilan / “kulit” daripada kualitas / “isi”). Artinya, karyawan ini tidak dewasa dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Meskipun karyawan ini (misalnya) seorang pekerja keras dan hasil kerja / produktivitasnya baik, tetapi dia dinilai belum siap untuk mendapatkan promosi jabatan (maupun training-training teknis untuk promosi jabatan) karena cara berpikir, bersikap, dan bertindaknya yang belum dewasa itu.

*****

“O…. Artinya, atasannya melakukan pengamatan tentang hal-hal seperti itu, ya ?” tanya sahabat saya.

“Iya, benar. Dan dalam kasus tadi, teman kamu itu akan dinilai sebagai kekanak-kanakan dan belum matang / dewasa,” kata saya.

*****

Kesimpulan dari tulisan kali ini adalah :

(1) Bagi para karyawan, perlu untuk melatih dan mengendalikan diri dalam berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai perusahaan (kecuali memang sudah tidak ingin bekerja di perusahaan di mana dia bekerja). Pepatah mengatakan, “Masuk kandang kambing, mengembik. Masuk kandang harimau, mengaum”, yang artinya harus menyesuaikan diri supaya selaras dengan situasi dan kondisi di mana seseorang berada (bekerja).

(2) Bagi para atasan / manajemen perusahaan, perlu untuk memperhatikan cara berpikir, bersikap, dan bertindak / perilaku karyawan. Kalau karyawan memiliki potensi untuk dipromosikan (karena hasil kerjanya bagus) tetapi masih ada cara berpikir, bersikap, atau bertindak / perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai positif yang dianut perusahaan, maka karyawan itu harus diberikan arahan sampai dia berubah selaras dengan perusahaan. Memperhatikan apa yang dibeli / dipakai karyawan dan apa alasan dia melakukan itu, merupakan cara sederhana yang efektif. Syaratnya adalah : para atasan harus meluangkan waktu untuk memperhatikan dan memikirkan karyawan (untuk memberikan arahan yang tepat).

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE