Karyawan Kontrak = Karyawan Tanpa Pesangon

735
Keterangan : Pesangon bagi karyawan diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan nomor 13 Tahun 2003. Besarnya ditentukan oleh masa kerja sebagai karyawan tetap dan nominal gaji terakhir, sehingga karyawan kontrak tidak mendapat pesangon karena tidak punya masa kerja tersebut.

*****

“Kasihan teman saya itu, sudah bekerja selama tiga tahun, tidak dapat pesangon ketika diberhentikan,” kata sahabat saya.

“Kok bisa ?” kata saya. “Apa dia mengundurkan diri atas permintaan sendiri ?”

“Tidak,” jawab sahabat saya. “Kontrak kerjanya sudah habis”.

Saya mendengarkan kata-kata sahabat saya.

“Dulu dia dikontrak selama dua tahun. Setelah itu kontraknya diperpanjang satu tahun. Totalnya tiga tahun,” kata sahabat saya lagi.

“Kalau dia masih karyawan kontrak, memang tidak dapat pesangon,” jawab saya.

“O…. Jadi memang begitu, ya ?” tanya sahabat saya.

“Ya, memang begitu,” kata saya. “Pesangon diberikan kepada karyawan tetap, bukan kepada karyawan kontrak”.

*****

Pada saat perusahaan memberhentikan karyawan tetap, perusahaan diharuskan oleh Undang-Undang untuk memberikan pesangon bagi karyawan tersebut. Istilah memberhentikan ini ditandai dengan tidak adanya surat permohonan pengunduran diri dari karyawan yang sudah berstatus sebagai karyawan tetap.Termasuk dalam hal ini adalah karyawan tetap yang diberhentikan karena memasuki usia pensiun sesuai ketentuan di perusahaan tersebut, meninggal dunia, atau cacat yang bersifat tetap (sehingga tidak bisa menjalankan pekerjaannya).

Pesangon memang hanya diberikan kepada karyawan tetap saja, bukan karyawan kontrak. Seseorang yang masih menjadi karyawan kontrak, pasti tidak punya masa kerja sebagai karyawan tetap. Padahal, masa kerja sebagai karyawan tetap inilah yang menjadi dasar perhitungan besarnya pesangon (hal lain yang menjadi dasar perhitungan pesangon adalah nominal gaji terakhir yang ditetapkan perusahaan untuk menghitung pesangon tersebut).

*****

“Itu sebabnya, perusahaan hanya mengangkat karyawan kontrak yang benar-benar bagus sebagai karyawan tetap, ” kata saya. “Sebab, ketika perusahaan mengangkat seseorang menjadi karyawan tetap, maka perusahaan harus mengambil sebagian laba usahanya untuk disimpan sebagai cadangan pesangon bagi karyawan tetap tersebut”.

“Saya kok belum paham,” kata sahabat saya.

“Begini…. Kalau Si A bekerja masih sebagai karyawan kontrak, maka perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk gaji, untuk iuran BPJS Ketenagakerjaan, untuk iuran BPJS Kesehatan saja, untuk  Tunjangan Hari Raya, dan untuk insentif dan jasa produksi atau bonus. Insentif dan jasa produksi (bonus) ini bisa ada, bisa tidak, tergantung ketentuan di perusahaan tersebut,” kata saya. “Tetapi kalau Si A ini diangkat menjadi karyawan tetap, maka perusahaan harus menyisihkan sebagian laba usahanya untuk disimpan sebagai cadangan pesangon juga, selain tetap harus membayar biaya-biaya yang tadi disebutkan untuk karyawan kontrak”.

“O…. Jadi pengeluaran perusahaan untuk seseorang yang menjadi karyawan tetap itu lebih banyak dibandingkan kalau seseorang itu hanya menjadi karyawan kontrak, ya ?” tanya sahabat saya memastikan.

“Benar !” kata saya.

“Kalau begitu, kenapa perusahaan mengangkat seseorang menjadi karyawan tetap ? ‘Kan mempekerjakan karyawan tetap itu lebih mahal dibandingkan mempekerjakan karyawan kontrak….,” tanya sahabat saya.

“Untuk mempertahankan karyawan yang bagus supaya tetap bekerja di perusahaan itu,” jawab saya. “Wajar kalau karyawan yang bagus mau dikontrak dua tahun dan diperpanjang kontraknya satu tahun. Tapi kalau terus-terusan sebagai karyawan kontrak, dia tidak akan mau. Dia akan pindah ke perusahan lain yang memberikan akan menjadikannya karyawan tetap”.

*****

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan ini adalah : menjadi karyawan tetap itu tidak mudah, karena perusahaan akan selektif dalam mengangkat seseorang menjadi karyawan tetap. Oleh karena itu, karyawan harus mempunyai integritas, kompetensi, dan produktivitas yang bagus, supaya diangkat menjadi karyawan tetap, dan apabila pensiun maka dia mendapatkan uang pesangon.

—–oOo—–

Penulis Bersertifikat Komisaris Perbankan, Praktisi Psikologi Industri, anggota Himpunan Psikologi Industri (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE