Lupa ?

94
Keterangan : Pewawancara mungkin saja menanyakan materi yang dulu didapatkan pelamar saat masih kuliah. Kalau nilai untuk mata kuliah itu adalah A, jangan sekali - sekali dijawab dengan kata "lupa"; kalau pelamar menjawab "lupa", maka pewawancara menilai bahwa pelamar adalah orang yang tidak bisa mengambil hikmah dari apa yang sudah dipelajari.

*****

“Buat apa sih fotokopi transkrip nilai harus dilampirkan pada berkas lamaran ?” tanya sahabat baik saya.

“Buat bahan wawancara,” jawab saya.

“Wah, kalau pelamar ditanyai  tentang materi kuliah yang dia dapat nilai C, bagaimana bisa dia bisa menjawab ?” tanya sahabat saya lagi.

“Pewawancara menanyakan materi kuliah yang nilainya A,” jawab saya.

“Kalau ternyata pelamar sudah lupa materi kuliah yang dia dapat nilai A itu, bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Maka pewawancara menilai bahwa pelamar ini adalah orang yang tidak bisa mengambil hikmah dari apa yang sudah dipelajarinya,” jawab saya. “Ibaratnya, apa yang sudah dipelajari hanya masuk dari telinga kanan kemudian keluar dari telinga kiri”.

“Itu ada kaitannya dengan seandainya pelamar ini diterima kerja, ya ?” tanya sahabat saya.

“Ya. Kalau dia diterima menjadi karyawan, maka apa yang diajarkan kepadanya di tempat kerja juga hanya masuk dari telinga kanan kemudian keluar dari telinga kiri,” jawab saya. “Artinya, dia ini memang bukan seorang pembelajar, jadi sulit untuk mengembangkan diri sendiri , dan otomatis tidak bisa diharapkan untuk mengembangkan perusahaan”.

*****

Saya masih menjumpai banyak pelamar yang tidak memahami makna fotokopi transkrip nilai yang dilampirkannya pada surat lamaran. Maksud saya, masih banyak saya temui pelamar (pada saat saya tanya tentang materi kuliah yang mendapat nilai A) hanya bisa menjawab dengan kata “lupa” (atau setelah menjawab berputar-putar akhirnya jadi bingung sendiri dan mengatakan “lupa” juga).

Tentu saja, sebagai pewawancara saya menilai bahwa pelamar ini hanya sekedar mendapat ijazah dan transkrip nilai (plus gelar), tetapi tidak menguasai ilmu yang sudah dipelajarinya di bangku kuliah selama bertahun-tahun. Pewawancara seperti saya tentu saja tidak akan memberikan rekomendasi bahwa pelamar ini adalah pelamar yang baik, karena pelamar ini sudah terbukti (selama wawancara) tidak bisa menjelaskan apa yang sudah dipelajarinya.

*****

“Padahal, biasanya pelamar kerja pada saat menjelang wawancara sudah tidak mempelajari lagi buku-buku kuliahnya dulu, ya ?” tanya sahabat baik saya.

“Nah, itu kesalahan pelamar tipe ini. Dia berpikir bahwa ketika dia sudah lulus dan diwisuda, maka dia tidak perlu mengingat-ingat lagi buku-buku kuliahnya,” kata saya.

“Bagaimana kalau pelamar itu sudah lulus lima bahkan sepuluh tahun sebelum tes wawancara ? Apakah tidak boleh bilang lupa juga ?” tanya sahabat saya.

“Ha…ha…ha… Tentu saja tidak boleh bilang lupa ! Kalau sampai dia bilang lupa, seharusnya dia jangan melamar dengan ijazah dan transkrip nilai plus gelar akademiknya,” jawab saya. “Saya sudah lulus 22 tahun lalu dari Jurusan Perikanan Undip, dan sekarang bekerja di luar bidang Perikanan. Tetapi saya tetap ingat dan menjelaskan materi kuliah yang dulu saya dapatkan. Kalau saya sampai bilang lupa, berarti saya tidak boleh memakai ijazah dan transkrip nilai serta gelar  Sarjana Perikanan saya”.

Sahabat baik saya mengangguk-angguk.

“Wah, ternyata kalau pelamar  berani memakai ijazah, transkrip nilai, dan gelar sarjana, konsekuensinya dia harus bisa menjelaskan tentang materi kuliah yang dulu didapat, ya ?” kata sahabat saya.

“Tepat sekali!” kata saya. “Kalau pelamar sudah lupa dengan materi kuliah yang dulu didapat tetapi masih melamar pakai ijazah dan transkrip nilai serta gelar kesarjanaannya, maka pewawancara akan menilai pelamar itu sebagai orang yang tidak berkualitas dan tidak pantas diterima kerja”.

—–oOo—–

Penulis adalah Komisaris Perbankan dan Praktisi Psikologi Industri; Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE