Melawan Rasa Tidak Betah di Pekerjaan Baru

11187
Keterangan : Tidak ada tempat kerja yang 100% ideal, dan karyawan harus bisa menyesuaikan diri dengan kenyataan ini. Yang penting adalah tujuan hidupnya tercapai.

* * * * *

“Apakah wajar kalau seseorang yang baru masuk kerja di sebuah perusahaan merasa tidak betah ?” tanya sahabat saya.

“Wajar saja,” jawab saya. “Dia pasti harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya yang baru, di mana ada rekan kerja yang menyenangkan dan juga tidak menyenangkan”.

“Bagaimana kalau ternyata yang dijanjikan atau dibayangkan ternyata tidak ada di perusahaan baru tersebut ?” tanya sahabat saya lagi.

“Itu biasa juga,” kata saya. “Tidak 100% yang dijanjikan perusahaan atau yang dibayangkan oleh karyawan ternyata ada di perusahaan baru tersebut,” jawab saya lagi.

“Jadi, apakah karena itu dia boleh keluar dari perusahaan itu ?” tanya sahabat saya.

“Jangan,” kata saya. “Sebab kalau dia keluar dengan alasan apa yang dijanjikan kepadanya atau yang dibayangkannya tidak terwujud 100%, maka dia akan selalu pindah-pindah kerja dengan masa kerja yang hanya sebentar atau kurang dari 2 tahunan”.

“Mengapa kamu bilang begitu ?”

“Karena saya sudah banyak sekali mewawancarai pelamar yang seperti itu. Dia pindah kerja kalau apa yang diinginkannya tidak terpenuhi di perusahaan tempat kerjanya. Maka jadilah, dia pindah-pindah kerja terus, karena memang tidak ada perusahaan yang 100% ideal”.

* * * * *

Fleksibilitas atau kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang seharusnya ditingkatkan dalam diri orang yang mudah kecewa dan kemudian pindah-pindah kerja karena alasan seperti dialog di bagian awal tulisan ini.

Orang yang fleksibel akan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang baru, termasuk dengan mudah menyesuaikan diri dengan hal-hal yang tidak ideal (yang bisa jadi membuat dia kecewa). Pada saat dia menghadapi kenyataan seperti ini, orang yang fleksibel akan lebih mudah menerima keadaan secara apa adanya, karena dia sadar bahwa pekerjaan itu pasti ada suka dukanya. Tidak mungkin pekerjaan itu isinya hanya suka saja. Orang yang fleksibel juga lebih mudah hidup realistis dengan melihat kenyataan yang ada bahwa mendapatkan pekerjaan itu sulit. Dia sadar bahwa kalau dia berpindah-pindah kerja dengan alasan tempat kerjanya tidak ideal seperti yang diharapkannya, maka seumur hidupnya dia akan berpindah-pindah kerja terus dengan alasan yang itu-itu juga.

* * * * *

“Lalu, bagaimana caranya meningkatkan fleksibilitas supaya bisa tetap bertahan di tempat kerja yang tidak ideal ?” tanya sahabat saya.

“Harus membangun tujuan yang kuat dalam bekerja,” jawab saya.

“Maksudnya bagaimana ?”

“Maksudnya, tujuan itu harus jelas dan tegas. Misalnya, tujuan dalam bekerja adalah mendapatkan gaji yang halal untuk memberi nafkah keluarga,” kata saya. “Dengan tujuan seperti ini, maka ketika di tempat kerja ada hal yang tidak menyenangkan, maka dia tetap bisa fleksibel dan bertahan, sepanjang dia masih mendapatkan gaji yang halal untuk menafkahi keluarga”.

“Kalau contoh tujuan kerja yang tidak jelas dan tegas itu yang seperti apa ?” tanya sahabat saya.

“Misalnya, tujuannya adalah bekerja di mana semua rekan kerjanya menyenangkan dia, atau tempat kerjanya dekat rumah, atau pekerjaannya tidak pernah lembur,” jawab saya. “Kalau tujuannya seperti ini, maka ketika menghadapi kondisi yang tidak ideal seperti itu, dia akan keluar dari pekerjaan. Dia tidak fleksibel, karena tujuan kerjanya tidak jelas dan tegas”.

* * * * *

Hidup itu adalah perjuangan. Ini adalah kalimat yang sering kita dengar. Dan bekerja adalah bagian dari hidup, maka bekerja tentu adalah perjuangan juga. Menentukan tujuan kerja yang jelas dan tegas membuat seseorang menjadi fleksibel dan bisa menerima kenyataan, dan dia bisa bertahan untuk berjuang mewujudkan tujuannya.

Tentu saja, dia boleh saja pindah ke perusahaan lain. Tetapi, hal itu setidaknya dilakukan setelah dia menjalani pekerjaan di perusahaan lama selama 2 atau 3 tahun. Sebab kalau kurang dari itu, maka dia akan dinilai sebagai orang yang mudah menyerah. Dan, dalam kenyataannya memang demikian.

Jadi, tetapkan tujuan kerja yang jelas dan tegas, yang layak untuk diperjuangkan. Jadilah fleksibel ketika menghadapi kondisi yang tidak ideal. Hidup adalah perjuangan. Tentu saja dengan didasari dengan doa kepada Tuhan Yang Mahaesa.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE