Membuat Rencana Pengembangan Pribadi

341
Keterangan : Di era persaingan  yang sangat ketat sekarang ini, karyawan harus aktif menyusun sendiri rencana pengembangan untuk dirinya sendiri.

* * * * *

“Perusahaan di mana saya bekerja sekarang ini kurang memperhatikan program pengembangan untuk karyawannya,” kata sahabat saya.

Saya diam saja, menyimak kata-katanya.

“Dulu, ketika masih dijalankan oleh manajemen lama, program pengembangan karyawan banyak diadakan. Tetapi sekarang, manajemen baru tidak lagi melakukan itu,” lanjut sahabat saya.

“Kenapa manajemen lama diganti manajemen baru ?” tanya saya.

“Karena perusahaan di tangan manajemen lama rugi terus,” jawab sahabat saya.

* * * * *

Saya tidak bermaksud menilai jelek manajemen lama di perusahaan di mana sahabat saya itu bekerja. Tetapi faktanya, perusahaan itu rugi, meskipun program pengembangan karyawannya bagus. Jadi, manajemen lama memang tidak sukses.

Sebaliknya, manajemen baru yang tidak menjalankan program pengembangan karyawan juga bukan manajemen yang baik. Tetapi faktanya, memang banyak manajemen baru yang tidak menjalankan program pengembangan karyawan, karena prioritasnya adalah menghentikan pemborosan dengan melakukan pengetatan anggaran di banyak bidang (salah satunya adalah menghentikan program pengembangan karyawan).

* * * * *

“Kalau begitu, saya harus bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Kamu harus membuat rancangan dan menjalankan program pengembangan pribadi atas biaya sendiri, supaya kompetensi kamu tetap memenuhi standar yang dibuat oleh manajemen baru, yang pasti standarnya lebih tinggi dari standar manajemen lama,” jawab saya. “Kalau tidak, maka manajemen baru tidak mempekerjakan kamu lagi karena kompetensi kamu tidak sesuai dengan standar manajemen baru”.

“Wah, saya harus mengembangkan diri dengan uang sendiri, ya ?” tanya sahabat saya.

“Ya, dan tidak boleh mengganggu pekerjaan,” kata saya. “Kamu bisa melanjutkan pendidikan formal sampai D-3 atau S-1 atau bahkan S-2 di program kuliah kelas karyawan yang diselenggarakan sore sampai malam setiap hari kerja, atau ikut kuliah di Universitas Terbuka, dan sebagainya”.

“Berarti saya harus mengalokasikan waktu, pikiran, dan biaya, ya ?” kata sahabat saya.

“Iya. Itu namanya INVESTASI untuk masa depan yang lebih baik, ketika perusahaan sedang dalam pembenahan dan terjadi penggantian manajemen,” jawab saya.

* * * * *

Kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan kali ini adalah :

  1. Karyawan harus selalu siap untuk menjalani program pengembangan diri / pribadi yang diselenggarakan oleh manajemen perusahaan.
  1. Pada saat terjadi pergantian manajemen lama ke manajemen baru, dan manajemen baru menghentikan program pengembangan karyawan, maka karyawan harus melakukan INVESTASI biaya (biaya atas beban sendiri) untuk mengembangkan dirinya, supaya tetap dipekerjakan oleh manajemen baru untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan oleh manajemen baru (standar yang ditetapkan manajemen baru pasti lebih tinggi dari standar yang ditentukan oleh manajemen lama).

—– oOo —–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, ilmuwan psikologi – anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).

Profile Status
ACTIVE