Mengapa Pelamar yang Indeks Prestasinya Baik Belum Tentu Lolos Seleksi ?

78
Ibarat pisau lipat serba guna, para pelamar kerja harus bisa menunjukkan "apa saja yang dipunyai & dapat dilakukan"; bukan semata-mata mengandalkan Indeks Prestasi saja, tetapi juga tujuan hidup yang jelas, kemampuan intelektual yang tinggi, dan kepribadian yang matang / dewasa. Sebab, perusahaan memang bukan hanya melihat Indeks Prestasi saja.

“Percuma punya nilai kuliah bagus,” kata sahabat saya bersungut-sungut.

Saya memperhatikan wajahnya. “Kok kamu bisa bilang begitu ?” tanya saya.

“Adik saya mengalaminya. Dia lulus dengan indeks prestasi 3 koma sekian. Tapi, ikut seleksi penerimaan karyawan di berbagai perusahaan, ternyata tidak lolos seleksi,” kata sahabat saya.

Saya masih saya diam. Mendengarkan.

“Apa karena adik saya terlalu bagus nilai kuliahnya, maka dia tidak diterima kerja, ya ?” kata sahabat saya.

“Bisa jadi,” jawab saya.

Sahabat saya terlihat kaget mendengar jawaban saya !

*****

Perusahaan mengetahui fakta ini :  ada perguruan tinggi yang murah dalam memberikan nilai kepada mahasiswanya, ada pula yang mahal dalam memberikan nilai. Karena itu, perusahaan lebih percaya pada hasil tes tertulis dan wawancara yang dilakukan oleh tim seleksi yang ada di perusahaan itu.

Selain itu, perusahaan juga melihat dari tes tertulis dan wawancara yang dilakukan tim seleksinya : apakah tujuan hidup pelamar dan kepribadian pelamar memang cocok dengan lowongan kerja yang tersedia. Kalaupun ada beberapa pelamar yang cocok untuk mengisi lowongan kerja yang tersedia, perusahaan akan memilih yang paling cocok untuk mengisi posisi tersebut.

*****

“Tapi, apakah Indeks Prestasi yang baik memang masih ada gunanya dalam proses seleksi penerimaan karyawan ?” tanya sahabat saya, masih penasaran.

“Tentu saja ada !” jawab saya tegas. “Banyak perusahaan yang mensyaratkan Indeks Prestasi tertentu sebagai syarat minimal. Misalnya, untuk mengisi lowongan staf akuntansi, salah satu syaratnya adalah S-1 Akuntansi dengan Indeks Prestasi minimal 2,75”.

” Jadi, pelamar dengan Indeks Prestasi kurang dari 2,75 tidak diproses lanjut, ya ?” tanya sahabat saya.

“Benar. Pelamar S-1 Akuntansi dengan Indeks Prestasi 2,5 misalnya, tidak akan diundang untuk mengikuti tes tertulis Dan wawancara,” kata saya.

“Tapi, misalnya di antara para pelamar S-1 Akuntansi tersebut, Indeks Prestasinya yang paling tinggi adalah 3,78, belum Tentu pelamar dengan Indeks Prestasi 3,78 ini yang diterima kerja, ya ?” sahabat saya ingin meyakinkan dirinya sendiri.

“Benar selalu !” kata saya. “Yang diterima kerja adalah pelamar yang berdasarkan hasil tes tertulis dan tes wawancara dinilai oleh perusahaan sebagai orang yang paling cocok untuk mengisi lowongan staf akuntansi di perusahaan tersebut”.

*****

Kesimpulan yang bisa diambil dari edisi kali ini adalah :

(1) Indeks Prestasi yang tinggi tetap penting dalam proses seleksi penerimaan karyawan baru. Pelamar yang Indeks Prestasinya tidak memenuhi syarat yang dicantumkan pada iklan lowongan kerja, tidak akan dipanggil mengikuti tes tertulis dan tes wawancara.

(2) Tes tertulis dan tes wawancara menentukan apakah seorang pelamar kerja diterima sebagai karyawan baru atau tidak. Yang diterima adalah yang dinilai paling cocok untuk mengisi lowongan kerja yang ada. Sebagai pengingat atas apa yang sudah ditulis dalam edisi sebelum ini, kecocokan ini dilihat dari : (a) tujuan hidup pelamar, (b) kemampuan intelektual pelamar, (c) kepribadian pelamar, (d) pengalaman kerja, pengetahuan, ketrampilan, sikap pelamar, (e) pendidikan pelamar. Jadi, pendidikan itu tetap penting, tetapi dalam seleksi penerimaan karyawan baru bukam merupakan satu-satunya faktor.

*****

Semoga bermanfaat dan semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.

—–oOo—–

Penulis adalah Komisaris Perbankan, Praktisi Psikologi Industri, Anggota HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), Anggota APIO (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi).

Profile Status
ACTIVE