Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah

366
(Sumber : Koleksi Pribadi Bagus Setyawan)

Semarang – RestuMagz, Jawa tengah merupakan provinsi yang memiliki beragam destinasi wisata, mulai dari wisata religi, wisata kuliner maupun wisata alam. Seiring dengan berkembangnya pariwisata di indonesia, dan semenjak diberlakukannya MEA(Masyarakat Ekonomi ASEAN) pada tahun 2007,menyebabkan pembangunan pariwisata Jawa Tengah terus di tingkatkan, alhasil  kunjungan wisatawan ke jawa tengah semakin meningkat. Salah satunya yaitu kunjungan ke wisata religi.

Di Jawa Tengah ada banyak wisata religi, salah satunya yang paling terkenal yaitu Masjid Agung Semarang yang terletak di Jl Gajah Raya Kelurahan Sambirejo Kecamatan Gayamsari, Semarang. Bangunannya yang sangat menawan ditambah pula terdapat  menara,  di sebut dengan menara Al Husna yang menjulang tinggi dimana terletak museum perkembangan islam Jawa Tengah. Museum perkembangan islam ini terhitung relatif baru, di resmikan pada tanggal 28 September 2007 oleh  Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto.

Hanya dengan membayar tiket masuk Rp7000,00 kita bisa masuk dan menikmati indahnya Masjid Agung.

Menara masjid agung dibuka mulai pukul 08.00 WIB – 20.30 WIB, sedangkan museum perkembangan islam di buka pada pukul 08.00 WIB – 15.00 WIB. Jadi, jika berkunjung ke menara Al Husna  sebaiknya pagi atau siang, supaya bisa lebih puas melihat peninggalan-peninggalan bernuansa islami  yang unik dan memiliki nilai seni yang tinggi. Disarankan jika ingin ke menara Al Husna jangan pada jam 17.00-18.00 karena pada saat itu petugas sedang beristirahat dan menara akan di buka lagi pada pukul 18.30.

Akses untuk menuju ke museum perkembangan islam di lantai 2 dan 3 hanya bisa menggunakan lift, dan harus antri terlebih dahulu untuk menggunakan lift tersebut karena maksimal  lift hanya bisa mengangkut 750 kg atau sekitar 8- 10 orang, dan sudah ada petugas di pintu masuk lift yang mengaturnya.

Setelah masuk ke museum, kita akan di suguhi dengan pemandangan  yang bernuansa islami  yaitu peninggalan sejarah berupa  artefak-artefak seperti Iluminasi Al Qur’An, Wayang golek Menak, Wayang Sadat, Gayor Masjid Sunan Muria, Gamelan, Ornamen Dua Sisi, Ornamen Masjid Mantingan, Keramik, Koleksi peninggalan Islam Awal, Artefak Kapal dagang, Miniatur menara Kudus, manuskrip yang berisi ilmu tafsir dan fikih, dan masih banyak lagi. Disamping mengkoleksi naskah, museum ini juga mengkoleksi benda –benda budaya yang terbuat dari gerabah maupun kayu, foto – foto masjid kuno dan ada juga koleksi foto – foto tokoh agama.

Bagi pecinta mushaf kuno, museum ini juga menyajikan beberapa koleksi mushaf , terdapat 9 mushaf kuno yang terletak di lantai 2, koleksi mushaf tersebut berasal dari Kudus,Temanggung, Semarang dan Tegalsari sedangkan yang lain tidak ada keterangan.

Koleksi benda bersejarah di museum, di atur berdasar  histori perkembangan islam yang dibagi menjadi 5 periode. Periode pertama, kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden  Patah menjadi  tanda awal perkembangan islam di jawa Tengah. Periode ke dua, pesantren sebagai tempat utama meneruskan islamisasi di  Jawa Tengah. Periode ke tiga perkembangan islam di daerah pedalaman Jawa Tengah menumbuhkan dialog islam dengan budaya lokal. Periode ke empat, sikap nonkooperatif pesanteren sejak masuknya kolonialisme di Jawa Tengah. Periode ke lima, pengembangan masjid Agung Jawa Tengah.

Di dalam museum, terdapat pula replika Lawang Bledhek yang diyakini sebagai karya Ki Ageng Sela. Dimana  Lawang Bledheg yang asli berada di Masjid Agung Demak.

Wayang sebagai media siar agama islam juga terdapat di museum ini, bukan hanya wayang kulit saja dimana pada awal perkembangan islam digunakan oleh sunan kalijaga menyebarkan agama islam, ada juga wayang golek menak yang digunakan sebagai media siar islam dimana menceritakan perjuangan amir hamzah dalam menyebarkan agama islam.

Di lantai 3, di sajikan pemandangan berupa koleksi Al Qur’an yang di tulis dengan  aksara jawa  pada tahun 1835 oleh Agus Ngaprah seorang abdi dalem Kraton Surakarta. Qur’an ini terbagi dalam 3 jilid yang disadur sepanjang 70 th. (1835 – 1905).

Untuk mendapatkan  informasi pengunjung hanya menyentuh  layar monitor komputer, jadi pengunjung bisa memilih informasi sesuai keinginan. Terdapat pula ruang multimedia dimana pengunjung bisa melihat film dokumenter perkembangan islam di Jawa Tengah.

Penulis : Zhulya Setia Anggraeini (Jurnalis BPR Restu Artha Makmur)
Editor : Arhika Chrisma Rani

Profile Status
ACTIVE