“Nomor Urut 5 : Pendidikan Formal”

110
Keterangan : Pendidikan formal itu penting, tapi memang bukan nomor urut 1. Yang ada di nomor urut 1 adalah tujuan hidup.

*****

“Pendidikan formal itu penting atau tidak, sih ?” tanya sahabat saya.

Saya mengernyitkan dahi, heran dengan pertanyaan aneh itu.

“Ya pasti penting,” jawab saya tanpa perlu berpikir panjang. Di zaman modern sekarang ini, semua orang juga tahu bahwa pendidikan formal itu penting.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu ?” tanya saya.

“Sebab di bank tempat saya bekerja, yang menjadi kepala cabang justru yang gelarnya insinyur,” kata sahabat saya. “Aneh, ‘kan ? Insinyur itu ‘kan harusnya kerja bukan di bank, apalagi jadi kepala cabang”.

” Betul, seharusnya memang begitu. Tetapi kenyataannya tidak,” jawab saya.

“Kok begitu ?” tanya sahabat saya.

“Karena perusahaan melihat banyak aspek, bukan hanya aspek pendidikan formal saja,” jawab saya.

*****

Suka atau tidak suka, dalam memberikan promosi jabatan (bahkan sejak seleksi penerimaan karyawan baru), pada prakteknya perusahaan sangat mengutamakan tujuan hidup karyawan pada urutan nomor 1. Hal ini dilakukan oleh perusahaan karena karyawan yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas untuk dirinya sendiri (dan keluarganya), adalah karyawan yang masih labil dan kekanak-kanakan. Selain itu, perusahaan juga melihat apakah tujuan hidup karyawan itu semata-mata hanya mengejar materi saja, ataukah karyawan itu juga ingin mendapatkan rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri, sebagaimana dikemukakan dalam hirarki kebutuhan Abraham Maslow. Ini semua diperhatikan oleh perusahaan, karena secara langsung terkait dengan motivasi karyawan dalam bekerja.

Pada urutan nomor 2 adalah kemampuan intelektual. Itu sebabnya, perusahaan melakukan psikotes bagi karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan (bahkan juga bagi para pelamar kerja pada saat penerimaan karyawan baru), yaitu untuk mengetahui kecerdasan karyawan tersebut. Ingat, kecerdasan itu bukan semata-mata dalam hal kemampuan berhitung / matematika, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan berhitung / matematika pasti termasuk di dalamnya. Mengapa kemampuan intelektual / kecerdasan itu penting dan menduduki urutan nomor 2 ? Karena secara nyata berpengaruh pada 3 hal ini : (a) karyawan yang cerdas mempunyai kemampuan yang baik untuk memahami permasalahan yang ada dengan tepat dan cepat, tanpa harus bertanya atau diberitahu terlebih dahulu, (b) karyawan yang cerdas tahu harus bersikap atau bertindak seperti apa ketika menghadapi permasalahan dengan tepat dan cepat, tanpa harus bertanya atau diberitahu terlebih dahulu, (c) karyawan yang cerdas tahu solusi yang tepat dengan cepat tanpa harus bertanya atau diberitahu terlebih dahulu. Tentu saja, karyawan yang cerdas juga tetap harus diberi training. Akan tetapi, pada saat menghadapi permasalahan di tempat kerja, di mana permasalahan itu belum pernah ditrainingkan, karyawan yang cerdas bisa memahami dan mengatasi permasalahan itu dengan tepat dan cepat berdasarkan training-training yang sudah didapatnya. Karyawan yang cerdas mampu meramu sendiri pengetahuan-pengetahuan dasar yang sudah didapatnya, menjadi pengetahuan yang lebih kompleks untuk menyelesaikan permasalahan baru dalam praktek kerja sehari-hari.

Pada urutan nomor 3, perusahaan melihat pentingnya kepribadian karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan (hal ini juga dilakukan perusahaan sejak seleksi penerimaan karyawan baru). Kecocokan kepribadian karyawan dengan tuntutan pekerjaan / posisi jabatan sangatlah penting. Bahkan, sejak masih karyawan baru, perusahaan sudah memperhatikan, apakah seorang karyawan juga punya kepribadian seorang pemimpin sehingga nantinya memang bisa dipromosikan untuk menduduki posisi jabatan yang lebih tinggi.

Urutan nomor 4 adalah pengalaman kerja, pengetahuan teknis tentang pekerjaan, ketrampilan, dan sikap kerja. Perusahaan yang relatif masih kecil biasanya tergoda untuk menempatkan aspek ini pada urutan nomor 1, artinya pada saat menerima karyawan baru maupun memberikan promosi jabatan, aspek pengalaman kerja inilah yang paling diutamakan. Tetapi di perusahaan yang sudah maju dan berkembang, aspek ini ada pada urutan nomor 4. Bukan berarti tidak penting, akan tetapi memang bukan yang paling penting. Artinya, tujuan hidup, kemampuan intelektual, dan kepribadian memang ada di nomor urut 1, 2, 3. Kalau nomor urut 1, 2, 3 itu terpenuhi, maka nomor urut 4 itu dapat dipelajari.

Terakhir, pada nomor urut 5 adalah pendidikan formal. Sekali lagi, bukan berarti pendidikan formal itu tidak penting. Sebab, kalau tidak penting, pasti tidak dituliskan di sini. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa urutan pendidikan formal ada pada urutan nomor 5. PENGECUALIAN ATAS HAL INI TENTU SAJA ADA PADA PROFESI YANG ATURANNYA SUDAH JELAS, SEHINGGA PENDIDIKAN FORMAL HARUS DIPENUHI. MISAL : DOKTER HARUS BERPENDIDIKAN FORMAL DOKTER, PSIKOLOG HARUS BERPENDIDIKAN FORMAL PSIKOLOGI, INSINYUR TEKNIK HARUS BERPENDIDIKAN SARJANA TEKNIK, PENGACARA HARUS BERPENDIDIKAN SARJANA HUKUM PLUS PENDIDIKAN KHUSUS PROFESI ADVOKAT, DAN MASIH BANYAK LAGI PROFESI YANG PENDIDIKAN FORMALNYA SUDAH DITENTUKAN OLEH UNDANG-UNDANG MAUPUN ASOSIASI PROFESI MASING-MASING. Tetapi untuk bekerja di bank (sebagai salah satu contoh), gelar pendidikan formal memang tidak harus Sarjana Ekonomi. Mengapa ? Karena di industri perbankan, memang tidak ada undang-undang atau ketentuan asosiasi yang mengatur tentang hal ini.

****

“O…. Ternyata begitu, ya ?” kata sahabat saya.

“Memang begitu,” jawab saya menimpali.

“Dan ini perlu diketahui juga oleh para pencari kerja, bahwa pendidikan formal itu penting, tetapi memang bukan satu-satunya. Tadi bahkan sudah dijelaskan urutan-urutannya, dengan pengecualian pada profesi-profesi yang memang oleh undang-undang atau aturan asosiasi profesi memang harus memenuhi pendidikan formal tertentu,” tambah saya lagi.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia, anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi.

Profile Status
ACTIVE