Perusahaan Tanpa SOP & Job Desc, Tapi Kepemimpinannya Kuat ?

1206
Keterangan : Perusahaan yang ideal adalah perusahaan yang SOP dan Job Desc-nya lengkap dan "up to date", serta dipimpin oleh orang yang kepemimpinannya kuta. Tetapi, kenyataan memang tidak selalu se-ideal yang seharusnya.

* * * * *

“Wah, ternyata SOP dan Job Desc di perusahaan tempat saya bekerja kacau balau,” keluh sahabat saya.

“Apa yang kamu maksud dengan SOP ? Job Desc ? Kacau balau ?” tanya saya.

“SOP itu ya Standard Operation and Procedure, yaitu penjelasan tertulis tentang bagaimana urut-urutan menjalankan pekerjaan dan bagaimana standar yang harus saya penuhi. Job Desc itu ya Job Description, penjelasan tertulis tentang apa pekerjaan saya dan apa yang harus saya lakukan,” jawab sahabat saya masih dengan penuh emosi kejengkelan.

“Kalau yang kamu maksud dengan kacau balau itu apa ?” tanya saya lagi.

“Kacau balau itu artinya tidak lengkap atau bahkan tidak ada tertulisnya, dan kalaupun ada maka sudah tidak ‘up to date’, ” kata sahabat saya.

“Tapi kok perusahaan tempat kamu bekerja itu bisa tetap berkembang ?” tanya saya.

“Nah, itu dia ! Di sana itu, Direktur, Manajer, dan Supervisornya memang mempunyai kepemimpinan yang kuat,” kata sahabat saya.

“Apa yang kamu maksud dengan kepemimpinan yang kuat ?” tanya saya, sekarang benar-benar ingin tahu.

“Mereka itu memang cerdas-cerdas, kalau ada masalah, bisa menemukan pemecahannya dengan cepat dan percaya diri. Mereka mengontrol anak buahnya, dan tidak “cuci tangan” kalau hasil anak buahnya bermasalah, karena mereka yang mengambil alih tanggung jawab dan membereskannya. Mereka juga selalu punya inisiatif untuk mengambil keputusan terbaik tepat pada waktunya, dan menanggung konsekuensi kalau keputusan itu ternyata salah,” sahabat saya menjelaskan. “Yang saya heran, kenapa mereka tidak membuat SOP dan Job Des yang lengkap dan ‘up to date’, ya ?”

“Apakah mereka semua itu, dengan kepemimpinan yang kuat, memang selalu sibuk bekerja ?” tanya saya.

“Ya. Mereka memang orang lapangan, dan kurang ahli dalam masalah administrasi, seperti membuat SOP dan Job Desc,” kata sahabat saya.

* * * * *

Menurut teori —– dan idealnya begitu —– perusahaan memang harus mempunyai SOP dan Job Desc yang ditulis oleh manajemen perusahaan secara lengkap dan “up to date”, plus dipimpin oleh atasan yang mempunyai kepemimpinan yang kuat.

Kepemimpinan yang kuat itu setidaknya ditunjukkan oleh ciri-ciri :

– Kemampuan intelektualnya di atas rata-rata orang kebanyakan.

– Tujuan hidupnya jelas dalam bekerja dan dewasa dalam berpikir dan berperilaku.

– Percaya diri tinggi, bukan orang yang ragu-ragu.

– Mengontrol anak buahnya, dan tidak “cuci tangan” manakala hasil kerja anak buahnya jelek.

– Berinisiatif mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat, dan menanggung konsekuensi atas keputusan itu manakala ternyata salah.

– Tuntas dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.

– Pekerja keras.

– Mewujudkan tercapainya hasil yang terbaik.

– Terorganisir rapi dalam bekerja.

– Detail.

– Menggunakan konsep yang matang berdasarkan keilmuan yang valid / jelas kebenarannya (bukan hasil pemikiran sendiri semata).

– Berani tidak populer (berani bertindak kontroversial)

– Memiliki ketrampilan untuk menjalin hubungan sosial dengan banyak orang

– Seorang “team player” tetapi tidak menggantungkan diri pada tim kerjanya

– Bukan tipe orang yang menjalin hubungan akrab dengan orang tertentu saja (yang se-hobi dan sebagainya); bukan orang yang sentimentil kalau kehilangan teman dekat

– Mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan bidang pekerjaannya

* * * * *

“Kalau di perusahaan tempat saya bekerja itu, menurut kamu bagaimana ?” tanya sahabat saya.

“Begini, ya…. Itu yang saya sebutkan tadi ‘kan idealnya begitu….. Kenyataannya, ‘kan tidak selalu se-ideal itu…. Kalau dari cerita kamu tadi, ‘kan kepemimpinan Direktur, Manajer, dan Supervisornya kuat, tapi karena keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya orang, mereka terpaksa harus memprioritaskan menyelesaikan pekerjaan dengan kepemimpinan mereka yang kuat, ‘kan ?” kata saya.

“Benar ! Dan itu yang membuat SOP dan Job Desc-nya belum ditulis dengan lengkap dan ‘up to date’,” kata sahabat saya.

“Itu masih lebih baik dibandingkan SOP dan Job Desc-nya lengkap dan ‘up to date’ tapi kepemimpinannya lemah,” jawab saya.

Sahabat saya heran. “Masa’ begitu sih ?”

“Faktanya begitu ! Ada banyak perusahaan yang SOP dan Job Desc-nya lengkap dan ‘up to date’, tapi karena dipimpin oleh orang yang kepemimpinannya lemah, maka SOP dan Job Desc yang lengkap itu hanya menjadi sekedar dokumen tertulis saja, tidak dilaksanakan, kalaupun dilaksanakan ya dengan banyak penyimpangan”.

* * * * *

Kesimpulan yang dapat diambil dari edisi kali ini adalah :

(1) Kalau kita bekerja, jangan menuntut yang semua sudah ideal, sebab hal itu jarang terjadi : (a) ideal dalam SOP dan Job Desc, (b) ideal dalam kepemimpinan para atasannya.

(2) Kalau semua hal di atas sudah ada di perusahaan tempat kita bekerja, syukurilah. Kalau belum lengkap, jalanilah dengan doa dan kerja yang baik.

(3) Kalau kedua hal pada butir (1) baru ada sebagian, yaitu “kepemimpinan yang kuat” (tapi SOP dan Job Desc masih lemah), hal ini lebih baik daripada yang ada baru “SOP dan Job Desc yang kuat” (tapi kepemimpinannya lemah). Fakta membuktikan, kepemimpinan yang kuat adalah lebih tinggi derajatnya dibandingkan SOP dan Job Desc yang kuat.

(4) Bagaimanapun, kepemimpinan yang kuat —– ketika perusahaan semakin besar —– harus melahirkan SOP dan Job Desc yang kuat juga, supaya ketika para pemimpin (yang kuat) sekarang ini melakukan alih generasi, maka dapat berjalan dengan mulus, sebab kepemimpinan yang kuat itu melekat pada diri seseorang dan tidak bisa diwariskan, sedangkan SOP dan Job Desc adalah sistem yang tidak melekat pada diri seorang pemimpin.

(5) Kalaupun SOP dan Job Desc —– pada akhirnya sudah lengkap dan “up to date” —– jangan pernah berpikir bahwa hal ini bisa menggantikan peranan kepemimpinan yang kuat. “The man (or woman) behind the gun”, artinya : SOP dan Job Desc yang lengkap dan “up to date” itu hanyalah “gun” (alat / senjata), yang penggunaan dan hasilnya sangat tergantung pada “man (or woman)” yaitu pemimpin yang menjalankan manajemen.

—–oOo—–

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, Ilmuwan Psikologi – anggota HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), anggota APIO (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi), Komisaris pada BPR Restu Group.

Profile Status
ACTIVE