RESTU KLATEN – LIRIK LURIK “SEJARAH”

2514
Monumen Wanita Menenun di Pedan oleh Batik Prasojo (Foto: Agustin Retnowati)

Klaten, RestuMagz – Kamis (29/10/2015) berkunjung ke Pedan. Melihat secara langsung bagaimana rumitnya produksi lurik tenun sekaligus mengulik sejarah perkembangan lurik asli Pedan ini.

Dulu pada masa penjajahan Hindia Belanda, seorang berdarah asli Pedan belajar tenun di kota. Sepulang dari sana, ia praktekkan ilmu itu dengan membuat lurik dan mendirikan usaha bersama saudaranya. Saat usaha tenun lurik itu berkembang pesat, tahun 1948 Indonesia kembali diserang Belanda. Para pribumi mengungsi, tak terkecuali masyarakat Pedan. Para pengungsi ia ajari cara menenun lurik. Hingga akhirnya tahun 1950 mereka kembali ke Pedan dan beramai­-ramai mendirikan usaha tenun lurik. Sebelum Orde Lama, Pedan menemukan kejayaan lurik. Sekitar 500 usaha tenun lurik berdiri dan kurang lebih 60.000 penenun mendapatkan penghidupan layak tiap harinya. Lalu tahun 1965 modal asing mulai datang dan modernisasi mulai berkembang. Datangnya mesin­-mesin tenun mulai menggeser alat tradisional. (Sumber: Ensiklopedia Lurik Klaten-Terasolo)

Sumo Hartono merupakan pendiri usaha lurik Prasojo. Nama ini kemudian disingkat menjadi SH yang selalu tercantum dalam logo merk dan monumen wanita sedang menenun yang ada di Pedan. SH memiliki 7 putra, namun sepeninggalnya tidak ada satupun putra yang ingin meneruskan usaha bapaknya ini. Karena pada masa itu memang masih bisa disebut dengan babad alas, masih sangat susah dalam mengembangkan usaha selain itu juga harus mencari segmen pasar di luar daerah Pedan. Akhirnya usaha ini dibeli oleh Bapak Wahyu Suseno owner PT. Kusumatex dan dikelola oleh menantu dari putra keduanya, Maharani Setyawan, SE (30).

“Di Pedan sendiri sebenarnya ada banyak perusahaan lurik tenun mbak. Tapi untuk yang mengembangkan fashion ya Prasojo saja. Dulu waktu masih dipegang Bapak, Prasojo hanya memproduksi selimut, serbet, dan kain lurik yang dioper gulungan ke pedagang-pedagang, muncul fashion ini ya ketika saya yang pegang. Jujur mbak, kami tidak pernah memakai marketing. Semua beredar dari mulut ke mulut tanpa media apapun, jadi saya tidak membaik-baikan Prasojo tetapi biar testimoni para pelanggan yang menjadi dasar orang-orang tertarik untuk ikut membeli dan memakai”, ungkap  Maharani kepada kami.

Selain itu dia juga menceritakan tentang pelanggan-pelanggan yang dari mancanegara.  “Masukan-masukan dari luar memang sangat pedas dan keras tetapi kalau dirasa, rupanya itu sangat membangun dan lebih bisa mengikuti permintaan pasar mancanegara sehingga Prasojo bisa semakin berkembang jadi hasilnya lebih maksimal mbak dan itu terbukti”, tambahnya.

(Album dokumentasi kunjungan dari orang-orang ternama di Indonesia milik Prasojo)

Album dokumentasi kunjungan dari orang-orang ternama di Indonesia milik Prasojo             (Foto: Agustin Retnowati)

Maharani menyatakan bahwa pelanggan setia batik lurik tenun asli ini justru warga Brazil, mereka sangat menjaga kualitas kain tenun dari oklak ini, bahkan biaya perawatan seperti laundry khusus justru lebih mahal dibanding harga beli kainnya jadi mereka beli biasanya hanya untuk 1x pakai saja lalu beli lagi. Jadi, mereka tidak pernah menurunkan jumlah pesanan model batik terbaru karya anak bangsa ini.

Kita patut berbangga atas produk-produk dalam negeri ini, tetapi alangkah baiknya kita juga harus ikut melestarikannya. Mengenakan pakaian dari batik lurik salah satu cara kita melestarikan budaya batik, saya sudah, bagaimana dengan Anda?

 Penulis : Agustin Retnowati  (Jurnalis PT BPR Restu Klaten Makmur)                              Editor   : Franes Pradusuara

Profile Status
ACTIVE