Sudah Bekerja = Tidak Belajar Lagi?

112
Keterangan : Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Setelah bekerja, orang tetap dituntut untuk terus belajar, supaya tidak ketinggalan zaman dan kehilangan pekerjaan.
* * * * *
“Jadi kamu masih kuliah lagi ?” tanya sahabat saya kepada saya.
“Ya. Memang kenapa ?” saya balik bertanya dengan heran.
“Buat apa kamu masih kuliah lagi ? ‘Kan kamu sudah bekerja. Kuliah itu ‘kan untuk mendapatkan pekerjaan,” kata sahabat saya.
“Benar. Dan untuk mempertahankan pekerjaan juga, dengan cara memecahkan permasalahan di tempat kerja. Kalau tidak bisa memecahkan permasalahan, maka pekerjaan bisa melayang,” jawab saya.
“Lho, untuk memecahkan permasalahan ‘kan tidak harus kuliah,” kata sahabat saya lagi.
“Mungkin untuk karyawan yang jenius, ya. Tetapi saya karyawan yang biasa saja, makanya saya perlu kuliah lagi,” jawab saya.
* * * * *
Dialog di atas memang tidak sepenuhnya tepat seperti itu. Tetapi dialog itu saya tulis berdasarkan pengalaman saya bertemu dengan beberapa orang yang mempunyai pandangan bahwa kalau seseorang sudah bekerja, maka tidak perlu kuliah lagi.
Pandangan seperti itu —– bahwa kalau sudah bekerja maka tidak perlu kuliah lagi —– tidak selalu salah. Kalau seseorang sudah puas untuk menjadi seorang staf di sebuah perusahaan, dan ilmu yang sudah didapatnya di bangku kuliah sebelum ini sudah dinilai cukup, memang dia tidak perlu repot-repot kuliah lagi (umumnya di malam hari, seusai jam kerja). Tetapi kalau seseorang ingin mendapatkan promosi jabatan di sebuah perusahaan yang manajemennya tertata dengan baik dan untuk itu dia perlu memiliki ilmu lanjutan tentang manajemen, maka kuliah lanjut (misalnya kuliah S-2 Magister Manajemen) memang menjadi keharusan.
* * * * *
“Jadi, boleh ‘kan kalau orang sudah bekerja kemudian tidak mau kuliah lagi ?” pancing sahabat saya.
“Saya ‘kan tidak pernah bilang tidak boleh. Saya ‘kan hanya bilang bahwa kamu juga jangan punya pendapat bahwa orang yang sudah bekerja tidak perlu kuliah lagi,” jawab saya.
Sahabat saya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memangnya kuliah lagi di saat sudah bekerja itu perlu untuk beberapa posisi jabatan, ya ?” tanyanya kemudian.
“Iya. Posisi jabatan yang pekerjaannya membuat perencanaan strategis tidak bisa kalau hanya mengandalkan pengalaman yang sudah dimiliki di masa lalu. Harus kuliah lagi, karena di bangku kuliah diajarkan pengalaman banyak orang lain yang sudah diteliti dan dibukukan, yang mungkin belum kita alami,” kata saya.
* * * * *
Memang, pada saat sudah bekerja, ada orang yang merasa perlu untuk terus belajar lagi, ada pula yang tidak. Hal ini disesuaikan dengan posisi jabatan orang tersebut di tempat kerjanya dan juga tujuan hidupnya.
Bagi orang yang merasa perlu untuk terus belajar sambil bekerja, ada pilihan belajar dalam arti kuliah S-1 atau S-2 atau S-3, ada pula pilihan mengambil training sertifikasi profesi, atau  mengikuti kursus / seminar. Semua itu disesuaikan dengan kebutuhan di tempat kerjanya.
“Jadi jangan sampai kuliah sambil bekerja hanya karena ingin mendapatkan gelar atau ijazah tetapi tidak menguasai ilmunya, ya ?” tanya sahabat saya.
“Benar. Jangan kuliah di sekolah atau perguruan tinggi yang tidak jelas kualitasnya, karena percuma saja,” jawab saja. “Sebab, untuk memecahkan permasalahan di tempat kerja, yang dipakai justru ilmunya”.
—–oOo—–
Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan anggota Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO).
Profile Status
ACTIVE