Yang Penting Kompetensinya, Bukan Gelarnya

960
Keterangan : Penulis (Constantinus) dan anaknya (Bernardine Agatha) di dojo karate. Di dojo karate, sabuk menggambarkan kompetensi seorang karateka. Sabuk bukanlah tujuan. Tujuannya adalah meningkatkan kompetensi di bidang karate.

*****

Banyak orang yang mengajak saya bicara tentang pengangguran yang bergelar Sarjana bahkan Magister. Saya selalu memberikan komentar singkat, “Sarjana atau Magister seperti apa yang jadi pengangguran ?”

Mendengar kata-kata saya, biasanya diskusi jadi tambah panjang.

*****

Di lain pihak, saat ini memang banyak orang yang membanggakan gelar pendidikannya. Padahal di tempat kerja, yang penting adalah kompetensinya (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap kerja).

Gelar pendidikan (ijazah) menjadi tujuan kuliah, bukan penguasaan ilmunya. Ini semua dilalukan demi gengsi semata, tanpa mengingat bahwa punya gelar akademis (ijazah) tanpa punya kompetensi akademisnya hanya akan menambah panjang deretan pengangguran bergelar Sarjana atau Magister.

Ironisnya, ada oknum perguruan tinggi yang memenuhi kebutuhan gengsi seperti itu, dengan memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswanya supaya cepat lulus dan mendapat gelar akademis. Mereka lupa bahwa Sarjana atau Magister yang tidak menguasai kompetensi akademis akan tetap sulit mendapatkan pekerjaan, dan kalaupun sudah bekerja saat kuliah maka akan ketahuan bahwa setelah menjadi Sarjana atau Magister ternyata kompetensi akademisnya tidak ada peningkatan (akibatnya, kalau ada masalah di tempat kerja, tetap saja tidak bisa memecahkan masalah itu dengan gelar Sarjana atau Magisternya).

*****

Saya jadi ingat bertahun-tahun yang lalu, ketika anak saya masih berusia 8 tahun dan mulai berlatih di dojo karate. Tujuan dari berlatih karate adalah meningkatkan kompetensi di bidang karate, bukan mencari sabuk. Sabuk menggambarkan kompetensi karate, dan bukan merupakan tujuan utama.

Bisa dibayangkan seorang yang belum pernah latihan di dojo karate kemudian memakai sabuk hitam. Sabuknya memang hitam, tetapi pukulannya (sebagai contoh) tidak bertenaga. Apabila dipakai untuk melakukan “tameshiwari” (memecah batu bata atau genting atau balok semen dengan tangan kosong), seorang pemegang sabuk hitam seperti ini akan gagal karena tidak menguasai tekniknya. Sebab, benda-benda tersebut baru bisa dipatahkan oleh tangan dengan teknik yang benar (kompetensi karate yang memenuhi syarat), bukan karena orangnya memakai sabuk hitam (tapi tidak punya kompetensi). Sekedar informasi (sebagaimana banyak diberitakan di internet), di luar negeri ternyata ada oknum yang menjual sabuk hitam kepada orang yang tidak pernah latihan karate secara benar, karena orang tersebut ingin terlihat bergengsi punya sabuk hitam. Ini sama seperti oknum yang menjual gelar akademik (ijazah) kepada orang yang tidak punya kompetensi akademis.

*****

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Kalau kuliah, yang dicari adalah kompetensi akademisnya (bukan gelarnya / ijazahnya). Sama seperti dalam karate, yang dicari adalah kompetensi di bidang karate (bukan sabunya).
  1. Gelar akademis (ijazah) menggambarkan kompetensi akademis. Sama seperti dalam karate, sabuk menggambarkan kompetensi di bidang karate.
  1. Di tempat kerja, masalah harus dipecahkan dengan kompetensi akademis (bukan dengan gelar akademis / ijazah). Sama seperti di karate, saat memecah batu bata atau genting atau balok semen, yang dipakai adalah teknik memukul dengan benar (bukan memakai sabuk hitam).
  1. Punya gelar akademik (ijazah) tanpa menguasai kompetenai akademisnya sama saja dengan memiliki sabuk hitam karate tanpa menguasai teknik memukul yang benar (sia-sia saja karena tetap tidak akan mampu memecahkan  batu bata atau genting atau balok kayu.

*****

Kembali ke kalimat pembuka tulisan ini, saya melihat bahwa banyak Sarjana atau Magister yang jadi pengangguran karena mereka memang punya gelar akademis (ijazah), tetapi tidak punya kompetensi akademis. Artinya, ijazahnya asli tapi palsu (karena dia tidak kompeten).

*****

Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa. Amin.

*****

Penulis adalah Praktisi Psikologi Industri, pengurus APIO (Asosiasi Psikologi Industri), anggota HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia).

—–oOo—–

Profile Status
ACTIVE